Divine Word Missionaries

Arnold Janssen Spirituality Center


AJSC


Back to

AJSC Index

Members' Area

Site Map

Home


PERISTIWA–PERISTIWA MISI
Berdoa Rosario
Dengan Satu Hati
Sebagai Misionaris

____Edisi Bahasa Indonesia

Misi, Ekaristi dan Maria merupakan satu kesatuan yang “tak terpisahkan”

– Pesan Paus Yohanes Paulus II
Untuk Minggu Misi Sedunia 2004 –

Edisi Bahasa Indonesia: 8 September 2005 (Tahun Ekaristi)

Diterbitkan: 1 Oktober 2004

Logos Publications, Inc
1916 Oroquita St.
Sta. Cruz, Manila
www.logospublications.com
Divine Word Missionaries
Techny, IL 60082-6099
www.svdmissions.org

Dicetak di Philipine dan Amerika Serikat

Cetakan Pertama: 8 September 2003 (Edisi Tahun Rosario)

Divine Word Missionaries
Techny, IL 60082-6099

Dicetak di Amerika Serikat dan Brisbane, Australia

Copyright©2002, 2005 Serikat Sabda Allah (SVD)


Daftar Isi

Anjuran untuk berdoa “Peristiwa Misi”

Rosario “Sebuah Iktisar Injil”

Rosario,”Sebuah Cara untuk Merenungkan Peristiwa-peristiwa Suci” (Saduran surat Apostolik Bapa Suci, Rosarium Virgins Mariae)

Kutipan Kesan dan Pesan dari Beberapa Pembaca

Ucapan Teremakasih

Buku Doa Rosario merenungkan “Peristiwa-peristiwa Misi” ini, muncul pertama kali pada hari “Minggu Misi Sedunia” (22 Oktober 2002), dan ditulis sebagai tanda kasih dan syukur kepada Allah Tritunggal Maha Kudus, sebagai tanda penghargaan bagi para misionaris dan menjadi satu cara yang mudah untuk berdoa dalam merayakan Tahun Rosario bersama Maria.


Pembukaan

Paus Yohanes Paulus II mengawali 25 tahun masa kepausannya dengan memperkenalkan perubahan di dalam tradisi doa Rosario. Dalam surat Apostoliknya, “Rosarium Virgins Mariae” ( 16 Oktober 2002), Paus mencanangkan bulan Oktober 2002 sampai Oktober 2003 sebagai Tahun Rosario, dan menganjurkan umat Katolik untuk menyegarkan iman mereka dengan merenungkan misteri kehidupan Kristus dalam “ persatuan dan bimbingan teladan Bunda Tersuci Maria.” Sebagai tambahan pada Peristiwa-peristiwa Gembira, Sedih dan Mulia dalam Doa Rosario, Paus memprakarsai satu peristiwa baru yakni,” Peristiwa Cahaya”, yang secara khusus menampilkan 5 momen penting dalam kehidupan publik Yesus Kristus, yaitu: “Pembaptisan di sungai Jordan; Perkawinan di Kana; Pewartaan tentang Kerajaan Allah, dengan seruanNya untuk Pertobatan; Peristiwa transfigurasi; dan yang terakhir, penetapan Ekaristi sebagai ungkapan sakramental dari misteri Paskah.” Paus meyakinkan umat bahwa dari segi iman penambahan peristiwa-peristiwa baru ini, sungguh didasarkan pada semua aspek esensial dari bentuk doa tradisional. Ini dimaksudkan untuk menyegarkan bentuk doa rosario dan membangkitkan minat umat Kristiani untuk berdoa Rosario dalam kehidupan rohani mereka.

Renungan Paus Yohanes Paulus II dalam “Peristiwa Cahaya” ini menjadi inspirasi untuk “Peristiwa Misi,” yang terdiri dari “(1) Inkarnasi, (2) Epifani, (3) Pemanggilan Keduabelas Rasul, (4) Pembasuhan Kaki, dan (5) Pengutusan Para Murid Ke Seluruh Dunia.”

“Peristiwa-peristiwa Misi” ini sendiri berakar dari Kitab suci, khususnya dalam Injil. Renungan atas setiap peristiwa disertai dengan sebuah kutipan Kitab Suci dan wejangan singkat tentang misi. Perjalanan setiap misionaris adalah unik, dan permenungan itu sendiri tidak akan pernah habis. Setiap peristiwa sangatlah bermakna dan mengundang setiap orang untuk lebih merenungkan dan menjadi rendah hati, asalkan kita membiarkan Tuhan berbicara mesra dengan kita dan membimbing kita ke dalam situasi khusus misi kita.

Kita berdoa supaya dengan merenungkan “Peristiwa-peristiwa Misi,” kita akan menghidupkan semangat misionaris di seluruh penjuru dunia dan memperkaya semangat misi mereka. Akan tetapi peristiwa-peristiwa ini pun diperuntukan bagi semua orang karena setiap orang adalah anak Tuhan, yang dipanggil untuk mengambil bagian dalam misiNya. Maka kitapun berdoa supaya dengan merenungkan peristiwa-peristiwa ini, kita akan membimbing setiap orang untuk lebih mencintai misi Tuhan, semakin iklas menjawabi panggilan Tuhan untuk bermisi, dan semakin mengakrabkan kita dengan semua misionaris di seluruh dunia.

Semoga bersama Santa Perawan Maria, Ratu Rosario dan Ibunda Misi, bersama Theresia dari kanak-kanak Yesus, para kudus dan martir misionaris, Allah Pengasih senantiasa menuntun perjalanan misioner kita dan meneguhkan semangat misioner kita.


Peristiwa Misi Pertama
INKARNASI
(Sabda Menjadi Manusia)

Bacaan Kitab suci:

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya…. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita…” (Yoh 1:1-5, 14).

Permenungan Misi:

Allah Tritunggal adalah sumber misi, dan misteri penjelmaan merupakan dasar kehidupan misionaris. Kita mengingat penjelmaan Sabda Allah dalam doa Angelus. Allah adalah Misi dan Misionaris utama. Pesan utama dari misi adalah Allah telah menjadi satu dengan kita dalam kemanusiaan kita dan dalam kehidupan kita, untuk merasakan kegembiraan, perjuangan, penderitaan dan pengharapan kita. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal kedalam dunia, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16-17). Maka sangatlah penting bagi setiap misionaris untuk lebih mengidentifikasikan diri, bukan hanya dengan para penerima Sabda, “Misi”, tetapi uga dengan sang Sabda yang telah menjadi manusia, yang merupakan “Misionaris dari para misionaris.”

Peristiwa Misi Kedua
EPIFANI
(Penampakan Tuhan)

Bacaan Kitab suci:

“Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia….” Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada- Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur” (Mat 2:1-2, 9-11).

Permenungan Misi:

Saksi pertama kedatangan Tuhan ke dunia adalah orang-orang biasa yang rendah hati: Maria dan Yosep, gembala miskin, dan kaum bijak dari Timur. Karena orang-orang bijak dari Timur itu cukup rendah hati sehingga mereka membungkuk, „Bersujud“ dan cukup bijaksana sehingga mereka mengakui bahwa pengetahuan mereka hanyalah sekelumit, maka Allah mewahyukah misteri Misi, ketika mereka setelah perjalanan yang panjang dan sulit, akhirnya “melihat bayi dengan ibunya Maria,” dan Allah “memenuhi mereka dengan kesukaan.” Seorang misionaris adalah seorang yang mempunyai semangat kerendahan hati, mau mendengarkan dan dituntun oleh Roh Kudus, mengenal dan membagi karurnia-karunia Allah, dan dipenuhi dengan hati yang gembira dan penuh syukur. Seperti orang-orang bijak dalam perjalanan menghadapi banyak tantangan dan ketidakpastian, berada di tengah kepekatan kegelapan malam, demikian pula seorang misionaris harus mengalami banyak pergulatan tetapi ia senantiasa melihat cahaya, „sang “Bintang kehidupan.” Pewahyuan diri Allah untuk misi berlaku untuk semua orang. Orang-orang bijak dari Timur mewakili semua orang yang berkehendak baik dan mencintai perdamaian, para pengembara dari pelbagai ras, budaya dan aneka bentuk misi.

Peristiwa Misi Ketiga
PEMANGGILAN KEDUABELAS RASUL
(Karunia panggilan misioner)

Bacaan Kitab suci:

“Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil…” (Mrk 3:13-14).

Permenungan Misi:

Sebelum memanggil kedua belas rasul dan sebelum menghadapi peristiwa-peristiwa besar dalam hidupNya, Yesus selalu pergi ke gunung untuk berdoa. Seorang misionaris adalah seorang pendoa, selalu mendengarkan bimbingan dari Roh Kudus sebelum mengambil keputusan. Yesus memanggil setiap misionaris dengan nama mereka (panggilan pribadi), untuk berada bersama dengan Dia (kemuridan/hidup religius), dan untuk diutus (misionaris). Angka “duabelas,” melambangkan Gereja, yang pada hakekatnya adalah misionaris. Panggilan kemuridan adalah panggilan untuk mengambil bagian dalam misi kenabian Yesus, yakni “untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin…, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dang penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4:18-19). Karya misi Yesus untuk menggapai semua orang diwujudkan dalam pertemuan dan dialog dengan wanita Samaria (Yoh 4:1-42). Setiap misionaris dipanggil untuk menggapai semua orang, dan terbuka untuk berbelarasa dan menghargai dialog dengan para pencari iman, dengan orang miskin dan tertindas dan dengan orang orang dari budaya dan agama lain. Terpanggil untuk membagikan kepenuhan kasih Allah dalam kehidupan dan misi Yesus, para murid lalu diutus untuk memberitakan Kerajaan Allah (Luk 9:2). Panggilan untuk mengambil bagian dalam misi Yesus diperuntukkan bagi semua orang, dan membutuhkan suatu jawaban yang iklas karena “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Luk 10:2).

Peristiwa Misi Keempat
PEMBASUHAN KAKI

Bacaan Kitab suci:

“Mereka sedang makan bersama…. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: ‘Tuhan Engkau hendak membasuh kakiku?’ Jawab Yesus kepadanya: ‘Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak….’ Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.’” (Yoh 13:2, 4-7, 12-15).

Permenungan misi: Pembasuhan kaki para murid oleh Yesus merupakan suatu contoh pelayanan misioner. Misionaris adalah seorang yang mengikuti secara dekat kehidupan “Sang Guru” yang “datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mrk 10:45). Dengan memberikan contoh nyata, Yesus mengajarkan pengikut-pengikutNya, untuk menjadi seorang misionaris yang melayani dan mencintai sesama. Demikan pula seorang misionaris harus mengajar dengan teladan hidupnya, dengan kesaksian hidup kristianinya. Sebagaimana kaki melambangkan langkah perjalanan, seorang misionaris harus selalu mengikuti jejak Yesus; selalu siap sedia melayani di manapun dan kapanpun mereka diutus. Mengikuti jejak Yesus memang tidaklah mudah. Membasuh kaki orang lain memerlukan kerendahan hati dan pengorbanan yang besar. Maka seorang misionaris adalah seorang yang harus berani menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti jejak Yesus (Mat 16:24). Tindakan pembasuhan kaki bukan hanya melambangkan kerendahan hati, pengosongan diri dan pengorbanan, tetapi juga Kasih Allah yang tak bersyarat, yang menghapus segala sesuatu yang menghalangi kita untuk menjadi seorang misionaris sejati, pembawa Kabar Gembira.

Peristiwa Misi Kelima
PENGUTUSAN PARA MURID KE SELURUH DUNIA

Bacaan Kitab Suci:

“Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: ‘Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman’” (Mat 28: 16-20).

Permenungan Misi:

Diutus oleh Bapa dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Yesus yang bangkit mengutus murid-muridNya untuk melanjutkan misi Allah. “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21). Dengan penuh penyerahan diri dan kepercayaan akan Kehadiran Allah Tritunggal, seorang misionaris diutus untuk menjadi saksi pembawa harapan dan kehidupan baru bagi dunia. Walaupun dahulu tugas ini ditawarkan untuk untuk bangsa tertentu, pada masa dan tempat tertentu, namun dewasa ini misi senantiasa ditawarkan kepada setiap orang, melampaui batas-batas budaya, waktu dan tempat. “Itu Tuhan” (Yoh 21:7) yang memanggil, yang membasuh, dan yang mengutus. Santu Paulus bertanya, “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: ‘Betapa indahnya derap kaki mereka yang membawa kabar baik!’”(Rom 10:14-15). Bahkan dalam usia senja sekalipun, seorang misionaris tetap menjadi mercusuar Pembawa Berita Gembira dan menjadi rambu hidup yang mengingatkan setiap orang bahwa ‘Allah begitu besar mengasihi kita dan akan selalu berserta kita’.

Anjuran kapan mendoakan “Peristiwa Misi”

Setiap misionaris (yaitu setiap umat kristiani) dapat mendoakan “Peristiwa Misi” ini, sesuai kepentingannya masing-masing.

Sejalan dengan penanggalan Liturgi, waktu yang dianjurkan untuk berdoa “Peristiwa Misi” adalah bulan Oktober, bulan Rosario dan Misi, khususnya pada hari Minggu Misi Sedunia, Pekan Doa sedunia untuk persatuan Gereja (18-25 Januari), Minggu Panggilan, Minggu Misi, Pentekosta dan juga perayaan hari-hari tertentu seperti Hari Raya Epifani, Pesta peringatan para rasul dan santo-santa misionaris, para martir dan para orang kudus.*

*Di bawah ini tertera daftar para santo-santa misionaris, para martir dan para orang kudus, dan hari raya peringatannya:

St. Petrus dan Paulus (29 Juni)

St. Theresa dari kanak Yesus, pelindung misi (1 Oktober);

St. Fransiskus Xaverius, pelindung misi (3 Desember);

St. Arnold Janssen, pendiri tiga Tarekat Misi: SVD, SSpS dan SSpSAp (15 Januari);

St. Joseph Freinademetz, misionaris di China (29 Januari);

St. Cyrilus dan St. Methodius, misionaris untuk orang Slavia dan pelindung ekumene (14 Pebruari);

St. Patrick, misionaris Irlandia (17 Maret);

St. Eugene de Mazenod, pendiri Serikat Misionaris Oblat Maria tak bernoda (21 Mei);

St. Justin de Jacobis, misionaris Etiopia, Afrika (31 Juli);

St. Hyacinth, misionaris Polandia (17 Agustus);

St. Peter Claver, pelindung orang Afrika- Amerika (9 September);

St. Lorenzo Ruiz, martir dan misionaris Jepang (28 September);

St. Daniel Comboni, misionaris Afrika dan pendiri misionaris Comboni (10 Oktober);

St. Isaac Jogues, martir dan misionaris penduduk asli di Perancis baru (Canada) (19 Oktober);

St. Anthony Mary Claret, pendiri Misionaris Anak-anak Maria Hati Suci (24 Oktober);

St. Frances Xavier Cabrini, pendiri Misionaris suster-suster Hati Suci Yesus, dan ibu para perantau (13 Nopember);

St. Columban, misionaris Abbot dan pelindung serikat misionaris St. Columban (23 Nopember);

Beato Pedro Calungsod, martir, pemuda, katekis awam dan misionaris pulau Ladrones (Marinas) (2 April);

Beato John Baptist Scalabrini, uskup, pendiri Misionaris Scalabrini, dan bapak para perantau (1 Juni);

Beata Teresa dari Calcuta, pendiri Misionaris Cintakasih (5 September);

Beato Paulo Manna, misionaris Burma (Mianmar) dan pendiri Pontifical Missionary Union, P.I.M.E. (15 September);

Beata Laura Montoya, pendiri tarekat Suster-suster misionaris Maria tak bernoda dan St. Catherine dari Siena (21 Oktober);

Beato Guido Maria Conforti, uskup dan pendiri Misionaris Xaverian (5 Nopember);

Beata Maria Pengasih, pendiri Missionaris Franciscanes dari Maria (15 Nopember);

Beato Giacomo Alberione, pendiri “Keluarga Pauline,” misionaris dalam kerasulan media (26 Nopember);

Beata Maria Helena Stollenwerk, rekan pendiri SSpS dan SSpSAp (28 Nopember);

dan para kudus lainnya yang hidup misionernya mengesankan anda.

Rosario “Sebuah ikhtisar Injil”

“Peristiwa-peristiwa Misi” merupakan satu rangkaian tema doa rosario berdasarkan injil yang dapat direnungkan secara lebih bermakna, tidak hanya sebagai suatu tambahan khusus dengan isinya yang khas, melainkan merupakan suatu keterpaduan yang serasi dengan keempat Peristiwa Rosario yang sudah umum dikenal dan disetujui Gereja, yakni, Peristiwa Gembira, Peristiwa Cahaya, Peristiwa Sedih dan Peristiwa Mulia. Misteri penjelmaan Allah merjadi manusia, sebagai batu penjuru, mempunyai hubungan istimewa dengan peristiwa-peristiwa misi lainnya. Peristiwa inkarnasi merupakan dasar peristiwa misi lainnya, serta memperkokoh keserasian dan hubungan mereka dengan semua Misteri Rosario - “Tuhan telah menjadi satu dengan kita dalam kemanusian kita dan dalam dunia kita, untuk mengambil bagian dalam “Kegembiraan kita, Perjuangan kita, Kesedihan kita dan Pengharapan kita.” Tiap peristiwa misi dari yang kedua sampai yang kelima memperkaya semangat missioner kita serta lebih dalam lagi menarik perhatian kita kepada rangkaian Peristiwa-peristiwa Rosario lainnya dan bahkan seluruh Injil.

Dalam Epifani, kita dapat membayangkan dan merenungkan kegembiraann Maria dan Yoseph yang dinaungi oleh Roh Kudus, gembala miskin yang mendengar berita gembira dari malaikat dan dibimbing ke palungan, dan para bijak yang dipandu oleh Terang Bintang dalam perjalanan misi mereka yang sulit, yang kemudian dengan penuh kegembiran mempersembahkan bawaan mereka kepada Yesus yang baru lahir (“Peristiwa Gembira”).

Dalam Pemanggilan Keduabelas Rasul, kita dapat membayangkan dan merenungkan Yesus yang sedang berdoa di gunung, dan memulai kehidupan publikNya, memanggil nama setiap muridNya, menggapai setiap orang yang berada dalam kesusahan, dan memberikan cahaya bagi mereka yang berada dalam kegelapan, misalnya Yesus mewartakan Kerajaan Allah, yang dilukiskan dalam pertemuan dan dialog misionerNya dengan wanita Samaria (“Peristiwa Cahaya”).

Dalam Pembasuhan Kaki, kita dapat membayangkan dan merenungkan Yesus bersama para muridNya di ruangan atas sebelum sengsara dan kematianNya, membungkukkan badan, membasuh kaki mereka dan mengajarkan mereka untuk meneladani Dia - menjadi pelayan yang rendah hati, berkorban, memanggul salib kita dengan tabah, dan mencintai tanpa syarat (“Peristiwa Sedih”).

Dalam “Pengutusan Para Murid ke Seluruh Dunia,” kita dapat membayangkan dan merenungkan Kristus yang bangkit, mengutus murid-muridNya untuk memberitakan Kabar Gembira kepada semua orang, memenuhi mereka dengan kuasa Roh Kudus dan meyakinkan mereka akan kehadiran dan Kasih Allah Tritunggal yang selalu menyertai perjalanan misi mereka (“Peristiwa Mulia”).

Rosario, “Sebuah Cara Untuk Merenungkan Peristiwa–peristiwa Suci”
(Disadur dari surat Apostolik Bapa Suci, Rosarium Virgins Mariae)

1. Doa Pembukaan: Seraya dengan rendah hati menyadari kebutuhan dan kerinduan kita akan Allah, doa rosario dapat dimulai dengan kata pembukan yang diambil dari Mazmur 70: “Ya Allah, bersegeralah menolong aku.” Kita juga dapat memulai dengan doa ‘Aku Percaya’ sebagai dasar perjalanan permenungan kita.

2. Menyebutkan setiap Peristiwa: Kita menyebutkan setiap Peristiwa untuk membuka adegan atau peristiwa yang menjadi pusat perhatian kita. Kita memusatkan perhatian dan pikiran kita pada satu kejadian atau momen kudus tertentu dalam kehidupan Kristus, dan merenungkan Injil secara lebih mendalam.

3. Mendengarkan Sabda Allah: Setelah menyebutkan peristiwa, menyusul pemakluman teks Kitab Suci yang sesuai. Kita mendengarkan dengan penuh khidmat sambil membiarkan Allah berbicara dengan kita dan untuk kita. Boleh diberikan wejangan singkat tentang misi berdasarkan teks Kitab Suci yang dibacakan.

4. Hening: Mendengar dan bermeditasi selalu diperkaya oleh keheningan. Kita mengambil waktu secukupnya untuk hening dan memusatkan perhatian kita pada peristiwa tersebut. Keheningan adalah hal sangat penting dalam latihan doa meditasi dan kontemplasi.

5. Doa “Bapa Kami”: Setelah mendengarkan Sabda Tuhan dan merenungkan peristiwa tersebut, kita mengangkat hati dan pikiran kita kepada Bapa. Dalam setiap Peristiwa kudusNya, Yesus selalu membimbing kita kepada Bapa. Dia mensyeringkan relasi cintaNya kepada Bapa untuk kita, agar kita boleh dengan penuh keyakinan berseru: “Ya Abba, ya Bapa!” (Rom 8:15; Gal 4:6).

6. Doa “Salam Maria”: Doa inilah yang membuat Rosario sebagai Doa Maria istimewa. Kita merenungkan keunikan misteri hubungan Maria dengan Kristus, yang menjadikan Maria sebagai Ibu Tuhan, Theotókos. Kita tiada hentinya menyerukan nama kudus Yesus, bila kita mempercayakan hidup dan mati kita melalui perantaraan Bunda Maria.

7. “Kemuliaan”. Puncak setiap kontemplasi kristiani adalah hormat, pujian dan syukur kepada Allah Tritunggal Mhakudus. Kristus membimbing kita kepada Allah dalam Roh Kudus. Memuliakan Allah Tritunggal pada akhir setiap peristiwa memberikan kita cita rasa awal bagaimana ‘memandang Allah’ di surga kelak.: “Betapa bahagianya kami berada di tempat ini” (Luk 9:33).

8. Doa Penutup: Doa Rosario dapat ditutup dengan sebuah doa untuk ujud tertentu dalam peristiwa tersebut, sehingga dengan merenungkan peristiwa tersebut, kita dapat “meneladani apa yang termuat di dalamnya dan memperoleh apa yang dijanjikan.” Kita juga dapat berdoa untuk ujud-ujud misi dari Bapa Suci dan mempersatukan diri kita lebih dekat lagi dengan semua orang Kristiani dan saudara-i kita yang bukan Kristiani.

Untaian Rosario: untaian Rosario berpusat pada Salib yang membuka dan menutup rangakain doa. Kristus adalah pusat hidup dan doa semua orang beriman. Segala sesuatu berawal dari Dia, tertuju kepada Dia dan dengan perantaraan Dia, dalam Roh Kudus, akan sampai kepada Allah Bapa.

Kutipan Kesan dan Pesan dari Beberapa Pembaca

1. Dengan cara sederhana dan penuh kusuk, “Peristiwa–peristiwa” ini membantu orang untuk berfokus pada tema ini” (Seorang teolog dan misiolog awam).

2. “Saya melihat dalam peristiwa–peristiwa ini buah-buah doa penghayatan rohani pribadi yang berlandaskan Kitab Suci dan berjiwa misioner… Saya berharap bahwa peristiwa misi dalam doa Rosario ini semakin dikenal dan digunakan.” (Superior General dari satu tarekat biarawan misioner internasional).

3. “Saya berpendapat, doa ini akan diterima banyak orang, khususnya pada tahun ini, di mana Bapa Paus mencanangkannya sebagai Tahun Rosario. Saya yakin bahwa banyak sekretaris misi dan animator misi di seluruh dunia akan sangat gembira memperkenalkan renungan-renungan ini guna membangkitkan semangat doa bagi kegiatan misioner …Satu cara yang bagus untuk menghidupkan doa untuk misi” (Sekretaris Misi di Roma).

4. “Yakinlah, bahwa para Suster kami akan memanfaatkan buku ini dengan baik, khususnya dalam jam-jam adorasi malam. Saya berpikir, inilah cara terbaik untuk mendoakan para imam, bruder dan Suster yang berkarya untuk misi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri” (Seorang suster SSpSAP di USA).

5. “Saya sudah menggunakan Peristiwa Misi ini dalam doa Rosario kita-kira seminggu sekali. Ini sangat membantu saya untuk menyadari lebih baik tentang panggilan misioner saya” (seorang pembimbing rohani, misionaris, yang tinggal di Phlipina selama 50 tahun).

6. “Saya senang dengan renungan-renungan misi yang memperkaya spiritualitas misi kita (biarawan-wati dan juga awam), yang tak pernah selesai digali. Satu refleksi mengandaikan refleksi yang lain, itulah yang saya alami” (Seorang suster misionaris di Australia).

7. “Renungan-renungan yang terdapat dalam kelima Peristiwa–peristiwa Misi memberi inspirasi bagi para misionaris, menuntun mereka ke dalam doa dan kontemplasi lewat doa Rosario suci. Bagi saya, refleksi-refleksi tersebut sangat memberikan inspirasi. Saya yakin, Renungan-renungagn ini akan lebih menambah wawasan para misionaris yang menggunakannya. Saya berpendapat bahwa pemberian nama Peristiwa–peristiwa Misi ini sangat tepat untuk kita” (Seorang misionaris di Ghana, Afrika selama 55 tahun).

8. “Saya kira buku ini sangat menarik, baik mereka yang sudah terjun dalam kegiatan misioner Gereja, maupun mereka yang mungkin tertarik untuk ikut dalam karya agung pewartaan Injil berdasarkan pembaptisan mereka. Buku ini akan menjadi alat bantuan yang istimewa untuk meningkatkan kesadaran akan panggilan umum kita sebagai seorang Kristiani” (sebuah penerbit, buku–buku rohani dan media).

9. “Misyonaryo rin pala kami!” (“Alangkah senangnya mengetahui bahwa kita juga adalah misionaris!”) (Seorang imigran awam Filipina).

10. Setiap saat, kita para uskup misionaris membuat “ad limina”, kunjungan dengan Paus, John Paus II menitik–beratkan ajaran Vatican II. “Gereja pada hakekatnya adalah misionaris.” Karena itu, setiap orang Katolik, Paus, Uskup, Pastor, Biarawan-biarawati dan Kaum Awam, dipanggil sebagai misionaris. Merenungkan “Peristiwa peristiwa Misi dalam Rosario suci,” tidak hanya mengingatkan kita akan kenyataan bahwa kita misionaris, tetapi benar-benar menjadikan kita misionaris melalui doa meditatip dan melalui karya misioner. Ungkapan tua: “Contemplata tradere,” yang berarti meneruskan apa yang telah kita renungkan. Kita mensyeringkan pesan “Kasih Allah itu menyelamatkan kita” (Uskup dan misionaris di Papua New Guinea selama 47 tahun).

Ucapan Terima Kasih

Sampul muka, Our Lady of the Mission oleh Sr. Elisea Quinto, FMM, terdapat di kapela seminari Serikat Sabda Allah (SVD), Tagaytay, Philipina.

Pericop dan kutipan Kitab Suci: ALKITAB. Jakarta: Indonesia: LAI (Lembaga Alkitab Indonesia), 1994.

Illustrasi untuk Peristiwa Misi pertama, Penjelmaan, oleh Stanley Gorski berdasarkan Perayaan 100 Tahun SspSAP (1996).
Menggambarkan Seorang Ayah (dilambangkan dengan uluran tanganNya), dalam kesatuan dengan Roh Kudus (dilambangkan dengan burung merpati), mengutus PutraNya (dilambangkan dengan Ekaristi dan Salib) ke Dunia (dilambangkan dengan bola dunia dengan uluran tangan-tangan). Sejak permulaan dunia, Allah telah menjadi satu dengan kita, dan senantiasa hadir sungguh dengan sangat mesra bersama kita dalam Ekaristi, “Sabda telah menjadi Manusia,” kehidupan dan jiwa setiap misionaris.

Illustrasi untuk peristiwa Misi kedua sampai kelima: Epifani; Pemanggilan kedua belas Rasul; Pembasuhan Kaki; dan Misi pengiriman murid-murid Yesus ke dunia, oleh Mahler dari Constitusi SVD (5 Nopember 1983).

…dan banyak penyumbang tanpa nama serta para animator misi yang dikirim Tuhan kepadaku pada waktunya - Marilah kita mengangkat hati dan melambungkan syukur tiada henti-hentinya kepada Allah - .


Surat dari Bapa Suci

(“Peristiwa–peristiwa Misi,” ini juga disampaikan kepada Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, dalam rangka 25 tahun masa kepausannya, dan dengan ikhlas hati memberikan jaminan doa dan berkat apostoliknya).

“Bapa Suci sangat gembira menerima surat anda. Beliau sangat bersyukur atas perhatian yang anda ungkapkan, dan Beliau berterima kasih atas bantuan doa anda dan atas kesetiakawanan anda dalam iman.

“Bapa Suci memohonkan perlindungan Roh Kudus atas diri anda, agar anda dipenuhi dengan Kekuatan dan Kegembiraan…Seraya mempercayakan anda kepada Perlindungan Maria, Ratu Rosario, Beliau memberikan Berkat Apostoliknya.”

Sgd.Monsignor Gabriele Caccia
Secretariat of State
Vatican City 3
November 2003

Rosario Meditasi ini ditulis oleh seorang Misionaris SVD,
Yang ingin namanya tidak dipublikasikan.

CUM APPROBATIONE ECCLESIASTICA
Serikat Sabda Allah (SVD), Roma
9 Juli 2003
Keuspan Agung Manila
1 Oktober 2003
Keuspan Agung Chicago
2 Agustus 2004

Saya akan menurunkan
hujan mawar dari surga…

(St. Theresia dari kanak Yesus)