Divine Word Missionaries

Arnold Janssen
Spirituality Center


AJSC


Back to

AJSC Index

Members' Area

Site Map

Home


Potret Bapa Pendiri

 

(berubah --- tetap)

 

oleh Fritz Bornemann, SVD

terj. Simon Bata, SVD

Pendahuluan:

Ketika Arnold Janssen memulai rumah misi di Steyl, ia dijuluki oleh orang sekitar sebagai ‚sicebol dari Prusia’. Uskup Vaughan, yang kemudian menjadi Kardinal Westminster (London) mengunjungi rumah misi ini pada bulan Januari 1976. Ketika memberikan kesannya tentang kunjungan ini dalam satu pertemuan di London, ia menyebut Arnold sebagai orang yang berperawakan kecil. Br. Walter Drathen menanyakan 18 anggota komunitas Steyl yang masih mengenal Bapa Pendiri secara pribadi: ‘Berapa tinggi Bapa Arnold’. Jawabannya: 164 cm. Memang Bapa Pendiri kita bertubuh kecil.

Cara berjalannya memberi kesan ia sedang tergesa-gesa. Ia mengayun dan membanting kaki kanan ke tanah agak kuat dan mengeret kaki kiri dari belakang. Ini bukan karena ia timpang, melainkan hanyalah caranya ia berjalan.

Kalau ia sedang bergegas, ia hampir melompat turun dan naik tangga. Tapi nampak beda kalau ia tengah berdoa brevir. Pada waktu itu para frater di St. Gabriel harus menunggu kalau hendak memakai tangga yang sama, sebab ia terhanyut dalam doa brevirnya sambil turun - naik tangga secara perlahan-lahan.

Dikatakan bahwa ia tidak pandai menyanyi. Namun ia sangat menghagai menyanyi sampai tahun terakhir hidupnya. demi merayakan misa besar dengan nyanyian, ia mau berlatih bernyanyi bersama koor.

Rambutnya perang, kemudian menjadi putih. Kening dan bulu matanya juga perang sedangkan matanya coklat. Hidungnya besar. Wajahnya tidak jelek. Sebuah fotonya dibuat waktu berada di Bocholt, ketika dipancang dalam satu pameran misi Italia, banyak pengunjung berkata: ‘lihat, ini Paus Montini’. Ketampanan wajahnya berangsur sirna sejalan dengan usianya. Fotonya ketika berumur sekitar 50 tahun menunjukkan bahwa mata kirinya besar dan terbuka sedangkan mata kananya lebih kecil dan sedikit tertutup. Ini mungkin diakibatkan oleh operasinya di Essen tahun 1889, ketika sebuah benjolan harus diambil dari mata kirinya.

Pada permulaan tahun 1884 ia menderita radang paru-paru, di mana dia harus tinggal di biliknya enam sampai 8 minggu. Seperti dikatakannya sendiri, inilah pertama kalinya ia jatuh sakit keras. Sampai umur 50an ia menikmati kesehatan yang baik. Setelah serangan radang paru-paru, ia sangat mudah diserang flu. Suaranya menjadi sangat lemah, sampai ia hampir tak bersuara. Dalam bulan Januari 1905 dokter menemukan bahwa ia menderita panyakit gula.

Seperti mata kiri yang besar dan terbuka, seluruh penampilan wajahnya berubah cukup kentara. Dalam tahun-tahun ini malah caranya menangani kegiatan harian, kesanggupannya dalam urusan adiministrtasi, bahkan sifatnya berubah. Orang boleh mengatakan bahwa ia bertumbuh, ia membuka diri dan menjadi matang. Inilah salah satu hal yang sangat menarik dalam diri seseorang.

I. Apa yang berubah?

1.

Pada awal hidupnya, tampangnya menakutkan. Tatapan matanya tajam. Ia melihat begitu tajam kepada para siswa sehingga mereka menjadi takut. Akan tetapi ketika berumur 63 atau 64, seluruh perilakunya berubah dan ia nampak lebih lembut, bersahabat dan penuh kebapaan. Apakah ini karena umur? Tidak semua orang menjadi lebih ramah dan penuh kebapaan bila menjadi lebih berumur. Ada yang memisahkan diri, tidak disenangi dan kepala batu, tetapi Pendiri kita menjadi kebapaan.

Salah seorang saksi dari kenyataan ini adalah P. Gier, yang berpandangan tajam terhadap perangai sama saudara dan para pembesarnya. Ketika P. Gier berumur 30, ia memberi peringatan tertulis kepada superior general, Arnold Janssen, yang waktu itu berumur 60 tahun. Surat peringatan itu sebanyak 54 halaman ukuran kartu pos. P. Gier kemudian menulis: “Pendiri kita bertumbuh penuh kebapaan sekitar tahun 1900 dan tidak membela dirinya terhadap surat peringatan yang kutulis bersama P. Kösters.

Kita tidak yakin bahwa Bapa Arnold berubah menjadi figur kebapaan hanya karena surat peringatan P. Gier. Sikap kebapaan dari Arnold juga tidak hanya semata karena menjadi berumur, melainkan karena kesanggupannya untuk belajar, untuk mengubah cara perilakunya, bahkan dalam menangani orang lain.

Umur tengah bayanya ditandai dengan realisme dan kesungguhan yang nampak dalam kerja keras; kedua hal ini terdapat dalam keluarga Janssen: mereka semua terbiasa dengan kerja keras. Ketika saudarinya yang bungsu, Gertrudis, yang tidak menikah dan mencari nafkah hidupnya dengan menjadi pembantu rumah tangga pada berbagai keluarga, jatuh sakit dan datang ke rumah di Goch, ia diterima untuk tinggal bersama mereka. Tetapi ketika ia menjadi sembuh, keluarga mendesaknya agar keluar dari rumah untuk mencari kerja. Bapa Pendiri pernah menolong dia untuk mendapatkan pekerjaan.

Selain pendidikan yang keras di rumah, Arnold juga dididik di sekolah seminari keuskupan. Dr. Perger, direktur dan guru matematik, les kegemaran Arnold, bersikap menjauh dari para siswa; Ia seorang otoriter dan figur yang menyendiri. Perhatiannya tidak pada pribadi siswa melainkan pada seluruh kelas atau kelompok. Sebagai direktur ia menuntut hormat; siswa secara pribadi jarang mendapat kontak dengannya. Ketika Arnold Janssen, sebagai Rektor rumah misi Steyl yang masih sederhana, mencari model kepemimpinannya, ia nampaknya memilih Dr. Perger.

Pada awal, Steyl tidak memberi banyak perhatian kepada individu, tetapi lebih kepada kelompok; Arnold Janssenlah yang melatih para siswa Latin kelas pertama, para bruder pertama dan para suster pertama. Tujuan utamanya adalah selalu kelompok, komunitas. Dengan para siswa, juga dengan para bruder dan suster, kelompoklah yang membentuk diri mereka. Pribadi menyesuaikan diri dengan rutinitas dan aturan harian, dst. Anggota kelompok menyesuikan diri mereka dengan berbagai latihan. Bila seorang tidak dapat menyesuaikan diri, ia akan disingkirkan dari kelompok dan akhirnya keluar. Adalah tugas para pengajar untuk mengawasi agar tidak terjadi sesuatu yang dapat menggangu rasa hormat kepada para penderma penting supaya tidak kehilangan sumbangan mereka.

2.

Perayaan pesta nama Rektor Janssen berasal dari Gaesdonk. Mulanya inilah pesta terbesar sepanjang tahun, tetapi kemudian sama besarnya dengan pesta Natal. Rektor Janssen diarak dari biliknya oleh dua pelayan, dipersilakan duduk pata tempat terhormat dan seluruh keramaian pesta berlangsung sekitar satu setengah jam. Lalu ia diarak lagi kembali ke biliknya. Patut dicatat bahwa pesta nama ini diganti dengan pesta famili, dan pada masa inilah para anggota memperhatikan pertumbuhan kebapaan dari Arnold Janssen. ‘Si tuan turun dari tahtanya dan duduk di antara keluarganya’.

Ada satu perubahan yang lain. Selama bertahun-tahun Rektor mengundang para siswa yang merayakan hari nama satu dua minggu lalu, untuk minum kopi bersama, tetapi dalam perjalanan waktu jumlah siswa membengkak, sehingga kebiasaan ini tidak dilanjutkan. Pada waktu itu ia telah menjadi superior general dari satu karya misi yang luas, sehingga tidak segala sesuatu tetap sama seperti pada 20 tahun masa awal.

3.

Ada perubahan hubungan antara siswa dan guru. Pada tahun-tahun pertama hubungannya sangat kekeluargaan, karena jumlah masih sedikit, kelasnya kecil; Pelajaran sering diberikan dalam bilik para imam. Tahun 1892-93 situasi berubah. Paling kurang satu kelompok merasa cukup kaget. Bapa Arnold berbicara dengan provinsial SJ Jerman bagaimana ia harus menangani situasi karena pada waktu itu ia mengambil aturan Jesuit tentang ruangan. Umumnya para siswa dan bahkan anggota tidak diperkenankan masuk bilik imam. Segala urusan harus diselesaikan di muka pintu dan ini menimbulkan suasana yang tidak enak di dalam rumah.

Selain aturan mengenai bilik, sistem senyor antara para siswa menjadi lebih kuat. Sebuah laporan tertulis mesti dibuat, bahkan tentang pelanggaran kecil di kamar makan. Penyelidik utama di balik ‘sistim resmi pengaduan ini’ bukanlah Arnold Janssen melainkan prefek dan seorang guru yang berpengaruh. Bagaimanapun Superior general sejalan dengan itu dan dialah yang memaklumkan aturan tentang bilik yang berlaku puluhan tahun, bahkan sesudah kematiannya.

4.

Awal tahun 1900an cara hidup siswa dan cara pembentukan mereka berubah. Sudah pada tahun 1898, superior general berusaha memindahkan P. Wegener, yang sudah menjadi prefek selama 20 tahun, dari tugasnya di Seminari, tapi ia tidak berhasil. Baru pada tahun 1902, karena banyak tekanan dari dewan rumah di St. Gabriel, P. Wegener bersedia untuk pindah dan P. Bernard Handrup menjadi prefek di Steyl.

Ada keberatan terhadap P. Handrup, tetapi itu tidak menghalanginya untuk mendapat nama baik sebagai seorang liberal. Namun Bapa Pendiri membela dia. Di bawah P. Hanrup, latihan rohani harian dikurangi dan bacaan meditasi waktu misa dihilangkan. Yang paling mencolok adalah kerja tangan dikurangi. Dengan selesainya program pembangunan dan taman-taman sekitar, bantuan tenaga dari para siswa tidak terlalu dibutuhkan. P. Handrup bahkan menghendaki agar pekerjaan di kantor percetakan, penjilidan dan pengiriman bukanlah sebagai satu aturan melainkan sebagai satu kekecualian. Ia menginginkan siswa yang beprestasi. Ia memajukan senam dan sport. Beberapa anggota mulai menyindir dengan ungkapan ‘keduniawian’ para siswa dan usilan ini terus berlangsung sampai kematian Bapa Pendiri. Bahkan P. General Blum mengungkapkannya secara terbuka dalam surat edarannya.

5.

Pengurangan latihan rohani pada masa Handrup adalah keduakalinya. Kali pertama tahun 1886, dalam musim semi, pada waktu kapitel general pertama; Anzer, uskup yang baru tertahbis mengemukakan anjuran supaya ‘doa pagi dan sore sedikit diubah dan doa panjang pada hari jumat dihilangkan’. !0 kali ‘Yesusku – Hati manis Maria ...’ dalam doa hari Jumat bisa diperpanjang, tetapi doa pagi dan petang dipersingkat.

Dalam musim panas 1886, P. Medits berada di Steyl dan sempat menyampaikan secara tertulis kepada Rektor Janssen keluhan-keluhan para imam dan bruder yang ia peroleh dalam pembicaraan pribadi dengan mereka. Hasilnya, pengakuan untuk para bruder yang dibuat pada jam 9 p.m sesudah devosi petang dimajukan ke sebelum makan malam, yang sebelumnya adalah jam kerja. Devosi petang dipersingkat. 76 kali Bapa kami, Salam Maria dan Kemuliaan dikurangi menjadi 20. Kebiasaan berlutut waktu bernyanyi diganti dengan berdiri. Keanggotaan dalam Ordo ketiga dihapus, juga untuk para bruder.

6.

Sejalan dengan perubahan-poerubahan ini, ada kelonggaran dalam menghayati kemiskinan. Arnold Janssen mengambil alih pemikiran tentang kerja tangan dan kemiskinan dari sekolah kerasulan Yesuit Perancis. Di mana dikatakan, hidup sekolah Latin, sejak awal harus serupa dengan novisiat.

Pada tahun-tahun pertama, paling kurang di antara para imam, Steyl terkenal dengan kemiskinan dan makanan sederhana. Tetapi itu berubah sesudah tahun 1885; makanan sudah lebih baik; tiga hari puasa dalam seminggu menurut aturan Dominikan dihapus dan daging dihidangkan di atas meja. Dapur diurus lebih baik; tahun 1889 dibangun sebuah tempat pembuatan bir. Para siswa bahkan sewaktu-waktu mendapat bir.

Baru pada tahun 1885 sebuah lemari pakaian dimasukkan ke dalam bilik imam. Sebelum itu hanya ada pengait pada tembok cukup untuk jubah dan mantel. Sebuah kain linen ditempatkan diatasnsya untuk melindunginya dari debu.

7.

Dalam komunitas-komunitas baru di Eropa, aturan harian, mingguan dan bulanan diatur menurut aturan di Steyl. Sejauh mungkin retret, pembukaan dan penutupan semester jatuh pada hari yang sama. Kesatuan dalam rutinitas di komunitas-komunitas yang dituntut oleh superior general ternyata kurang produktif, maka Bapa pendiri akhirnya atas namanya sendiri mengubahnya. P. Bill melaporkan pada tahun pertama dan P Blum memberi komentar tentang hal ini dalam 10 tahun pertama berdirinya serikat bahwa aturan harian dan aturan-aturan yang ‘baku’ sering dan tiba-tiba diubah oleh Bapa Pendiri. Inilah salah satu hal yang menjadi bahan peringatan yang diberikan P. Medits kepada rektor Janssen. Sedikit waktu sesudah tahun 1890, perubahan yang sering ini tidak terjadi lagi. Apakah Arnold Janssen berubah? Apakah ia menjadi lebih baik?. Ya dan tidak. Segera setelah aturan berbagai kominitas disusun, tiap rumah mengatur hidupnya, independen dari dia. Dalam kunjungan tahunannya ke berbagai rumah, ia hampir tidak dapat campur tangan. Ia harus berurusan dengan para pejabat dan pembesar rumah yang serta merta menentang perubahan yang terlalu sering. Hal yang sama terjadi di Steyl. Walaupun ia menyandang gelar rektor rumah, segala urusan rumah berada di tangan prefek para frater, P. Wegener, dari tahun 1885-19002, kemudian tugas itu diberikan kepada P. Blum.

P. General mempunyai tempat khusus di kamar makan. ia memberikan konferensi bagi seluruh anggota rumah pada hari Minggu, dan konperensi untuk para imam pada hari Kamis. ia menyelenggarakan pembukaan dan penutupan tahun sekolah, ujian akhir, dan yang paling utama adalah mengontrol administrasi. Ketika jabatan rektor, prefek, ekonom, magister novis para bruder, direktur pembentukan bruder, pengawasan percetakan dan penerbitan diserahkan kepada orang lain, ia mendapat tantangan keras bila membuat perubahan yang terlalu sering. Keluwesan Pendiri diperoleh dari pengalaman kerjanya. Sebuah karya mempunyai aturan mainya sendiri, di mana dia yang adalah pencipta karya itu, harus memeliharanya; dan pada kenyataan ia taat melaksanakannya.

8.

Bukti dari ini ketika Pendiri menjadi lebih berumur, ia menjadi lebih tepat waktu. Selama 10 tahun pertama, anggota komunitas harus menunggu untuk misa atau ibadat bahkan di kamar makan atau waktu konferensi. Dalam tahun 1886, Uskup Anzer secara hati-hati memberikan peringatan: ‘Sangat baik kalau memiliki sebuah jam di sakristi atau di sekitarnya sehingga ibadat lirturgi dapat dimulai pada waktu’. P. Medits mengatakan hal yang sama mengenai jam minum sore. Peristiwa ‘tidak tepat waktu’ pada awal dapat ditolerir dalam komunitas kecil di mana rektor mempunyai begitu banyak macam tugas. Dalam keluarga kecil, 5 atau 10 menit terlambat tidak menjadi soal. Ketika P.Medits memberikan peringatan tertulis, komunitas Steyl waktu itu tidak lagi satu keluarga kecil: 130 siswa Latin, 70 frater, 100 bruder, novis dan postulan.

Dari tahun 1900, bahkan sebelumnya tidak ada lagi keluhan. Rupanya P. Blumlah, otak di balik organisasi serikat ini, mau menyampaikan keluhannya tentang hal ini secara tertulis. Sesudah tahun 1900, masih ada sedikit keluhan tentang ‘lamanya waktu’ superior general duduk di meja makan khususnya sarapan pagi pada hari Minggu dan hari Raya, di mana diperbolehkan bicara waktu makan. Ada anggota lain yang suka akan gaya rileks dari Arnold. P. General hanya menjaga rutinitas yang ia sendiri tetapkan dan ia menjadi terbiasa dengannya. Ia telah menjadi hamba dari pekerjaan itu yang ia sendiri mulai.

Hal serupa di atas terjadi juga berulang kali dengan superior general yang lain. P. Gier misalnya, seorang magister novis, menghilangkan sejumlah praktek kesalehan yang khas bagi serikat, terlebih banyak doa lisan bersama, bahkan doa suku jam. Sebagai general, ia menjadi seorang pelindung yang setia akan tradisi serikat. Ketika ia magistter novis ia menyebut secara khusus ‘kerugian’ kalau mempunyai rumah besar seperti Steyl dan St. Gabriel. Ia mengeluh tentang kurangnya perhatian terhadap pribadi perorangan dan pengaruh negatip dari situasi masal. Namun sebagai general ia mendirikan St. Augustin yang mulanya hanya novisiat para frater menjadi sekolah filsafat dan teologi. Ia berencana besar dan membangun besar, membuat sesuatu yang dulu ia keluhkan mengenai Steyl dan St. Gabriel.

Hal yang sama terjadi pada P. Grendel. Ketika ia rektor di St. Gabriel, profesor dogma harus membawa patung bayi Yesus dari kelas ke Gereja waktu malam Natal. Pada waktu itu ia mempersoalkan penerusan kebiasaan ini, paling kurang untuk para frater. Ketika ia menjadi general, dialah yang paling gigih mempertahankan tradisi serikat, termasuk prosesi bayi Yesus.

Dia yang memegang jabatan harus taat kepada aturan jabatan yang ia emban. Contoh yang pling kentara adalah P. Arnold Janssen; Tanpa sadar ia menciptakan satu karya yang dalam banyak cara mengontrol hidupnya sendiri.

9.

Satu aspek lain lagi dari karya Pendiri yang mempunyai pengaruh pada dirinya. Sebagai guru di sekolah menengah atas ia hidup di kota kecil Bocholt. Kalau tetap tinggal di sana ia tentu tidak menjadi tenar. Itulah satu dunia kecil, yang diperluas dengan minatnya akan kerasulan doa, yang dengannya ia menjadi sadar akan kegiatan gereja sejagat. Bentuk kegiatannya terbatas. Ia bekerja untuk satu persekutuan saleh, menulis brosur dan selebaran doa, mencetaknya atas biaya sendiri dan bejalan keliling membaginya. Ia tetap kecil sebagai seorang guru matematik di sebuah sekolah kecil. Untuk bertumbuh secara rohani, ia menggabungkan diri dengan satu persekutuan Gereja.

Sesudah Bocholt ia pindah ke Kempen dan memulai penerbitan Bentara Hati Kudus. Dari seorang promotor persekutuan rohani, ia beralih ke penerbitan majalah misi. Kini perpustakaannya berisikan banyak buku mengenai ilmu bumi, sejarah penembuan dunia baru dan misi. Ia mempunyai minta besar dan memiliki pengatahuan tentang misi Katolik di semua benua.

Lalu ia memutuskan untuk mendirikan sebuah seminari misi di Belanda. Sama seperti sebelumnya menangani Kerasulan doa, ia mengunjungi para pastor paroki, rumah missi, demikian juga sekarang ia mengunjungi para uskup, kardinal dan duta vatikan. Ia membeli sebuah rumah, membeli batu, kayu, kapur, menyewa pekerja dan mengawasi mereka ketika ia mulai membangun.

Ia membuat rencana untuk sekolah Latin. Ia mempelajari kurikulum pendidikan dari berbagai seminari dan menulis surat kepada seminari misi di Perancis, Belgia, Italia dan Inggris. Ia memimpin sebuah sekolah Latin, Kursus filsafat dan Theologi. Ia mengambil bagian dalam sistim pendidikan dan memberikan beberapa kuliah seperti filsafat, dogma, teologi moral, katekese, homiletik dan beberapa matakuliah lainnya.

Tiga tahun setelah berdirinya serikat misi, ia memulai majalah ‘Stadt Gottes’. Majalah mingguan berukuran besar dan bergambar. Ia berpegian ke Roma beberapa kali untuk merundingkan sebuah misi di Cina dan di tempat lain. Ia mendirikan pembentukan bruder misi. Kita dapat menyimpulkan bahwa setelah 5 tahun berdirinya rumah misi, P. Arnold Janssen, Rektor Steyl tidak lagi orang kecil dan tidak terkenal. Ia bertumbuh terus sejalan dengan karyanya.

Satu peristiwa lain dalam hidupnya yang membantu dia untuk bertumbuh adalah berdirinya tarekat suster. Usahanya yang baru ini membuat dia sering dan hampir selalu mempunyai kontak dengan para suster, yang sebelumnya tidak terlintas dalam pikirannya. Sebelumnya ia sangat jarang mempunyai kontak dengan wanita. Dengan para suster ia menjaga jarak sopan santun tetapi bukan tidak bisa didekati; Ia bebas dan merasa spontan seperti ayah dalam sebuah keluarga. Bila perlu ia berbicara dengan para suster tentang kesehatan dan kebersihan, hampir seperti peran seorang dokter dalam rumah.

Walaupun karyanya yang terus bertumbuh membawa semua hal-hal baru ini ke dalam hidup pribadinya, namun ia tetap yakin pada dirinya. Ia terus bertumbuh dalam linkungannya, yang memang masuk akal dan menjadi dirinya sendiri.

10.

Dalam musim dingin tahun 1875-1876 tiga klerus di Steyl menuduh Arnold Janssen membuat sesuatu sendiri tanpa mendengarkan pendapat mereka. Musim panas tahun 1876 ia meminta pendapat mereka dan bersama frater JB anzer, merumuskan aturan rumah.

Tahun 1890, ketika ia mendirikan komunitas suster, “meminta pendapat dari yang lain” sudah merupakan hal biasa. Ia tidak hanya menanyakan Sr. Maria dan Sr. Yosepha, malainkan setiap suster bahkan postulan yang termuda. Tentu ia tidak menanyakan hal konstitusi tetapi menanyakan hal-hal lain. Tahun 1891 ia meminta ke 15 anggota komunitas suster (secara kanonik mereka semua adalah postulant) memberikan ajuran untuk siapa yang menjadi pemimpin, wakil pemimpin dan penasehat. Ia tidak merasa terikat dengan anjuran mereka tetapi merasa dipimpin oleh anjuran mereka. Helena Stollenwerk mendapat 3 suara untuk pemimpin dan 5 suara untuk wakil pemimpin. Sedangkan Hendrina Stenmanns mendadpat 5 suara untuk pemimnpin dan 3 suara untuk wakil pemimpin. Arnold Janssen mengangkat Stollenwerk sebagai pemimpin dan Stenmanns sebagai wakil.

Beberapa bulan kemudian, ia meminta anjuran dari 20 postulan dan hasilnya adalah penataan kembali tata tertib dalam rumah; tiga suster tertua membentuk dewan inti, dan bersama empat suster yang lain membentuk dewan umum. Kali ini ia mengikuti anjuran yang diberikan para suster. Masing-masing dari empat anggota dewan itu mendapat 13 sampai 15 suara.

Bulan Juli 1892, ia meminta pendapat dari 16 novis dan 9 postulan ketika hendak mengirim 5 suster ke Togo.

Kepercayaan Arnold Janssen terhadap pendapat orang lain jauh lebih besar daripada yang dapat dibayangkan dalam kesan pertama. Sejak awal ia menerima tiap anggota sebagai kelompoknya, mengenal tiap pribadi lebih baik daripada prefek mereka; bahwa para novis mengenal teman novisnya lebih baik daripada magistenya, dan bahwa para bruder di bengkel saling mengenal lebih baik daripada pembimbing rohani mereka.

11.

Baiklah melihat sedikit bagaimana Arnold Janssen memilih anggota baru, khususnya suster dan bruder. Tahun 1877-78, ia mulai menerima pria yang mau menjadi bruder misionaris, ia tidak terlalu selektif, ketika menerima masuk postulan. Br. Martin pernah menulis: ‘Orang mendapat kesan, ia menerima setiap orang’.

Saat pertama pemilihan adalah ketika seorang melamar masuk postulat. Dari 100 postulan bruder, 42 masuk novisiat dan 37 mengikrarkan kaul pertama. Suster-suster jumlahnya lebih banyak. Dari 100 postulan suster, 81 masuk novisiat dan 66 mengikrarkan kaul pertama, hampir dua kali dari bruder. Prosentasi yang tinggi dari para suster ini disebabkan karena Pendiri lebih selektif dalam menerima lamaran dari para calon suster. Dari 193 pelamar calon suster, ia menerima 35 sebagai postulan; itu berarti 18% atau 1 dari 5. Ia mempelajari surat lamaran mereka. Mereka yang terpilih harus wawancara langsung dengannya. Sesudah itu baru mendapat keputusan akhir apakah diterima atau tidak. Para calon juga dibiarkan setahun di luar, lalu mengambil keputusan apakah mau melamar ulang.

Apakah Arnold mengambil sikap keras dalam memilih calon untuk para suster karena ia telah belajar dari pengalamannya dengan para bruder? Mungkin! Di lain pihak, ada lebih banyak lamaran calon suster daripada bruder, sehingga ia menjadi begitu selektif dengan calon suster. Ketika ia pertama kali memuat reklame untuk suster misi dalam ‘Kalender St.Michael, dan di dalam penerbitan lain dalam musim panas tahun 1890, reklame itu menjengkau 120.000 keluarga. Ketika ia memulai pembentukan bruder, edaran kalender dan penerbitan lain jauh lebih kurang, sehingga wajar kalau calon bruder jauh lebih kurang. Dalam masa kemudian prosentase postulan bruder yang masuk novisiat dan mengikrarkan kaul sama dengan suster, sebab Arnold Janssen sungguh menyaring para calon sebelum mereka diterima masuk postulat.

Perubahan-perubahan tersebut diatas hanya beberapa yang mempengaruhi dan membentuk sifat Bapak Pendiri.

Di lain pihak, kita tidak menutup mata terhadap sikap dan tingkah laku yang tetap melekat pada dirinya, teguh dan tak berubah.

II. Apa yang tetap?

Dalam gambaran berikut mengenai Bapa Pendiri, saya tidak bermaksud memberikan satu uraian lengkap tentang sifat utamanya, seperti imannya yang besar yang mampu memindahkan gunung, atau dedikasinya yang penuh untuk misi. Beberapa sifat digambarkan hanya secara singkat.

1.

Arnold Janssen adalah seorang pekerja keras; tinggal di meja kerjanya sampai larut malam. Selama 30 tahun, pada awal pendirian serikat, ia tidak pernah berlibur. Namun sekitar tahun 1905, ketika penyakit diabetesnya menjadi lebih parah, ia kadang-kadang beristirahat. P. Blum juga seorang pekerja tanpa kenal lelah, tetapi Pendiri tidak memuji dia karena banyaknya pekerjaan yang dibuat sebab ia memang memiliki kemampuan demikian. Ia pernah mengatakan: ‘Pater Blum menulis tiga surat sementara saya menulis satu surat. Tangannya bekerja lebih cepat daripada saya’. Bagaimanapun juga hasil kerja tangan P. Arnold sangat tinggi. Ia sendiri menulis lebih dari 1500 halaman teks konstitusi. Selain itu catatan hariannya, daftarnya tentang para imam, bruder, suster dan siswa.

Pada waktu itu tidak ada daftar tercetak. Ia menulisnya sendiri dan terus menerus dibaharuinya. Selain dari itu ada pula daftar dari kursus-kursus dan masa studi, catatan- catatan untuk setiap rumah dan berbagai unit kerja. Juga patut disebut surat-surat pribadi. Kita tahu sekitar 5000 surat, dan mungkin lebih; kebanyakan ditulis dengan tangan. Baru dalam tahun 19002 sekretarisnya mulai menggunakan mesin tik. Akhirnya ada pula buraman untuk kuliahnya, konferensi, retret dst.

P. Arnold Janssen tidak mengerti mengapa satu serikat misi harus repot mengatur waktu bebas untuk para anggota. Puisi dan sajaknya sampai tahun 1875 dan dimulainya lagi ketika terpaksa beristirahat pada tahun-tahun akhir hidupnya; dalam 30 tahun di antaranya ia tidak mempunyai waktu untuk menulis; ia terlalu sibuk untuk hal lain. Ia tidak memilih karyanya tetapi melaksanakan apa yang ditutut oleh jabatannya dan hanya itu. Prioritas tertinggi menyerap seluruh waktu dan tenaganya.

Nampaknya ia tidak membuat journal pribadi. Ia memberi perhatian pada kekudusan, dogma dan sejarah keselamatan lebih dari semua smua yang lain. Catatan tentang hidup batinya jarang.

2.

Ia tahu mengatur dirinya. Tiga surat yang ia tidak jadi kirim, tersimpan di arsip. Satu surat dipertimbangkan oleh dewan bahwa surat itu tidak menguntungkan dan ketiga surat itu kurang seimbang. Surat yang ia kirim sungguh lembut, tenang walaupun ia mempunyai surat-surat yang sulit untuk dibalas. P. Blum bereaksi lebih cepat dan lebih keras, demikian juga P. Gier. Arnold Janssen sungguh seorang yang tahu mengontrol dirinya. Ia jujur dan tidak main siasat. Ia tidak menceriterakan semua yang ia tahu, tetapi apa yang dibicarakannya adalah benar. Ia iklas dalam semua yang ia buat, tanpa kekurangan cinta terhadap mereka yang ia hidup dan bekerja bersama.

3.

Orang pendiam umumnya memiliki disiplin diri dan mengasihi kebenaran. P. Arnold dapat saja membela dirinya ketika nama baiknya dibicarakan keluar, tetapi ia tinggal diam. ‘Yesus juga diam’. Ia sering menyebut ungkapan ini dalam konferensi rohaninya, sehingga para bruder dapat menulisnya dengan benar dalam bahasa Latin ‘Jesus autem tacebat’.

Sikap diamnya merupakan sifat yang paling megensankan dalam hidupnya. Di akhir kapitel general di St. Gabriel, 1890, Uskup Anzer untuk pertama kalinya mengancam meninggalkan serikat dengan kata-kata: ‘Jika anda tidak melakukan itu, saya akan keluar dari tarekat’. Peristiwa ini merupakan kejutan besar bagi Arnold Janssen. Rumah Steyl baru berdiri 15 tahun dan jumlah imam baru mencapai 60. Anzer, uskup muda, bertanggung jawab atas misi pertama dan satu-satunya sampai pada waktu itu. Ancamannya mengejutkan pater General, yang empat minggu kemudian bepergian ke Roma dibayangi dengan awan gelap. Apa yang ia cari? Nampaknya ia membutuhkan nasehat atas konfliknya dengan uskup Anzer. Selama sekitar tiga minggu ia berjalan tanpa tujuan dari satu tempat ziarah ke tempat ziarah lain dan tidak membicarakan persoalan ini dengan seorang pun. Lalu ia menerima sepucuk surat permohonan maaf dari uskup Anzer dan keretakan dipulihkan.

Dua tahun kemudian ketegangan antara Uskup Anzer dan beberapa sama saudara menjadi bahan pembicaraan di Roma. Tahun-tahun berikutnya terjadi salah pengertian yang hebat antara uskup Anzer dan para misionaris, yang juru bicaranya adalah P. J. Freinademetz. Oleh karena persoalannya dipertanyakan dan sikap uskup dalam penangannya, maka General harus menentang dia. Kesulitan muncul sehubungan dengan konsep tentang misionaris seperti yang dihadirkan dalam diri SVD. Selama 12 tahun, uskup Anzer yang namanya dikenal baik dalam dunia media dan menikmati nama baik dalam misi serikat yang masih muda ini dan menjadi orang besar, telah menjadi salib bagi komunitas misi, salib yang semakin hari semakin menjadi lebih besar dan lebih berat. Dan General tinggal diam.

Tahun 1903, pada puncak krisis uskup dipanggil ke Roma dan meninggal karena serangan jantung. Anzer seorang tokoh masyur dalam sejarah misi mempunyai kelemahan juga sebagai manusia. Kuburnya di bawah naungan Gereja St. Petrus mengingatkan kita bahwa P. Arnold menjunjung tinggi kaulitas moral dari seorang pribadi (kerajaan Allah berserta kita) lebih daripada kegiatan lahiriah, lebih dari pertemuan dan kemuliaan di muka kaiser dan raja, lebih dari pendapat para pengontrol mas media. Kubur ini mengingatkan kita bahwa Pendiri telah memanggil sama saudara yang sederhana bukan hanya untuk tugas suci, tetapi juga menjadi uskup yang terkenal dan penuh percaya diri.

Pemikiran dasar panggilan kita adalah menerima semua orang tanpa kecuali. Mereka yang memegang jabatan tinggi harus juga mengenakan gagasan ini dalam hidup pribadi mereka. Itulah salah satu prinsip utama Bapa Pendiri, prinsip yang selalu dibelanya. Seperti halnya dengan uskup Anzer, ia menjadi seobyektif mungkin dengan dia, dan dengan P. Freinademetz, pertimbangan sejarah agaknya sependapat dengan apa yang dibuat P. Janssen.

Hubungannya dengan Kuria di Roma ditandai dengan kesabaran. Ia tahu bagaimana berurusan dengan tiap anggota. Ia memperhatikan otoritas mereka, mengetahui kekuatan dan kelemanhan mereka, tetapi ia tidak mengorbankan prinsip-prinsipnya. Ia taat kepada pedoman mereka, atau kalau ia tidak dapat, ia hanya menunggu, kadang-kadang sampai bertahun-tahun.

4.

Gambaran misi yang dicanangkannya ditunjukkannya kepada para siswa, bruder, suster yang ia terima dalam serikat. Dari awal sampai akhir ia setia kepada ideal ini. Enam kali dalam 10 tahun terakhir hidupnya ia menulis secara rinci aturan penerimaan calon. Pemikiran dasarnya adalah bahwa tiap orang harus berjuang untuk hidup suci, tetapi para misionaris harus menunjukkan kesalehan yang tulen, kuat dan teguh secara moral.

Musim bunga tahun 1876 Rektor Janssen membiarkan P. Bill dan Reichart pergi, Anzer, satu-satunya anggota klerus yang masih tinggal. Anzer mengajukan sebuah daftar pertanyaan kepada Arnold Janssen dan meminta satu jawaban yang pasti dan tegas.

  1. Apakah semua anggota komunitas menjadi ordo ketiga dominikan? Rektor: Ya.
  2. Apakah akan dikenakan pakaian khusus? Rektor: Saya belum tahu.
  3. Apakah saya harus membuat janji kemurnian? Rektor: Ya, sebab kita hanya membutuhkan orang murni di tanah misi.
  4. Dapatkah saya pergi ke rumah sebelum tahbisan? Rektor: Tidak, sebab tidak cukup alasan.
  5. Kalau saya pergi saja ke rumah, maka apa jadinya? Rektor: Maka anda juga diberhentikan.

Kalau Anzer menyatakan bahwa ia tidak mau membuat janji kemurnian, atau ia pergi saja ke rumah, maka apa yang terjadi? Rektor Janssen tahu: ,maka saya akan sendirian. Mungkin saudara saya Yohanes akan segera datang. Tetapi barangkali keberangkatan Anzer akan berarti akhir dari urusan misi di Steyl, 9 bulan setelah berdirinya. Walaupun ada pemikiran dan kemungkinan ini, namun Rektor Janssen teguh pada pendiriannya. Mengapa? Karena hanya pria dan wanita yang murni dan taat dapat berhasil di tanah misi.

Ini bukan hanya sekedar soal janji atau perjalanan ke rumah, seperti pengalaman Anzer, tetapi lebih dari itu bahwa Arnold Janssen rela kehilangan sama saudaranya yang terakhir, bahkan menyerah melepaskan karyanya, kalau para calon tidak mau menyesuaikan dirinya dengan ideal misinya, bukan hanya soal mengumpulkan sejumlah misionaris, tetapi lebih pada bagaimana mengirim pria dan wanita yang dipersiapkan dengan baik, yang kuat rohani ke tanah misi.

Orang berubah, zaman berubah. Psikologi dan ciri studi menjadi lebih luas dan beberapa persyaratan pada waktu itu tidak cocok lagi dengan sekarang. Tapi ini bukan menjadi persoalan. Namun kita harus bertanya, apakah seorang yang mempunyai idealisme harus berkompromi dengan idealisme lain demi memperoleh jumlah yang banyak? Bapa Pendiri memilih satu kelompok elit pria dan wanita yang teguh secara moral dan rohani, sampai bahkan ia bersedia mengurangkan bentuk rumah misinya atau menutupnya sama sekali bila perlu.

5.

Bapak Pendiri tetap setia pada prinsipnya mengenai kelompok elit ini sampai akhir hidupnya. Bahkan sebelum tahun 1890, ketika jumlah imam dan bruder masih kecil, kalau anggota-anggota mempunyai masalah, ia berkata: ‘mereka boleh pergi kalau mereka mau’. Ia menjelaskan ini kepada para frater sebelum tahbisan subdiakon bahwa mereka bebas untuk meninggalkan tarekat tiap waktu, kalau mereka merasa tidak kerasan dalam tarekat dan bahwa ia mau menolong mereka untuk mencarikan uskup bagi mereka.`

Sikap yang sama ia tunjukkan kepada para suster. Walaupun ada tekanan dari berbagai pihak, ia malah memberhentikan beberapa putri dari keluarga-keluarga terpandang, dan tetap kukuh pada keputusannya. Jika gadis muda itu yang sudah diberhentikan dari suster, berusaha dengan berbagai cara untuk masuk lagi, Pendiri menulis kepada Muder Maria: “Lepaskan dia’. Ini bukanlah bahasa kebiasaannya tetapi ia mau menunjukkan betapa ia menghindari cara dan contoh penerimaan kembali calon yang demikian.

Sampai tahun 1896 para klerus baru mengikrarkan kaul kekal lima tahun sesudah tahbisan. Ini memberikan kesempatan luas bagi Bapak Pendiri guna mempersiapkan mereka untuk kaul kekal, sambil secara terang menunjukkan kepada mereka kemungkinan untuk meninggalkan tarekat. Siapa yang terbukti tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan patokan yang ditetapkan Bapa Pendiri dianjurkan untuk keluar, bahkan ia sudah seorang imam. Karena hukum Gereja menuntut kaul kekal dibuat sebelum tahbisan subdiakon, Janssen berpikir mengenai bentuk tersiat, barangkali 5 tahun sesudah tahbisan, sebagai bentuk pembaharuan panggilan.

Masa pembaharuan demikian memudahkan orang untuk meninggalkan tarekat jika ia tidak mau membaktikan dirinya seumur hidup. Menurut hukum Gereja, itu tidak mungkin. Di balik semua ini Bapa Pendiri prihatin akan keinginannya untuk mencegah menurunnya mutu para calon misionaris.

Bila kita berbicara mengenai semangat pendiri, sikap tegasnya dalam penerimaan calon termasuk di dalamnya. Ia tidak menginginkan jumlah melainkan mutu. Ia menuntut mutu yang tinggi dari pribadi. Baginya yang paling penting adalah mutu rohani dan moral, bukanlah kemampuan teknik dan profesional.

6.

Sebagai penutup patut disebut bahwa dari awal sampai akhir ia selalu mencari orang-orang yang menyerupai dirinya yakni dekat dengan Allah. Dalam pekerjaan hariannya, selain devosi serikat dan tugas imamat, ia tidak menyisikan waktu berjam-jam untuk berdoa, tetapi ia menaruh hormat besar bagi mereka yang berdoa banyak. Penghargaannya terhadap doa terungkap dalam karyanya mendirikan tarekat Suster Adorasi Abadi. Namun ia sendiri lain. Sering selama siang hari, ia pergi ke depan tabernakel, tetapi biasanya hanya untuk kunjungan singkat. Biasanya ia berada di bangkunya dan sambil duduk di sana ia sering melambungkan pikirannya dalam doa singkat. Bila ia mempunyai kesulitan untuk membalas surat, ia berlutut dan berdoa bersama sekretarisnya.

Doa suku jam adalah kesukaan yang melekat pada dirinya. Ia memperkenalkan ini kepada berbagai komunitas untuk dipraktekan. Ia sadar bahwa di dalam kelas, bersama murid yang bukan seminari, dan di dalam kesempatan lain tidak mungkin mendoakan doa suku jam. Bagaimanapun juga semua anggota serikat misinya yang pernah mengikuti sekolah tarekat, tahu bahwa bila lonceng doa suku jam berbunyi, seperti P. Gier menulisnya kemudian, hal itu memberikan tiap orang satu dorongan batin setiap seperempat jam, satu peringatan batin bahwa seorang menemukan kekuatan batin hanya dalam persatuan dengan Allah. Bagi bapa Pendiri jelas bahwa kesalehan sejati dan kedekatan dengan Allah perlu untuk menghasilkan kerendahan hati dan tingkahlaku yang pantas.

Dalam rancangan pertama aturan untuk para suster, Bapa Pendiri tidak mempertimbangkan akan mendirikan adorasi abadi. Semua menjadi suster misi. Tetapi entah di rumah atau di misi, semua mereka meluangkan waktu 2 jam sehari untuk berdoa, sejam di siang hari dan sejam di malam hari untuk ujut karya kerasulan. Ia menggariskan tugas pertama adalah berdoa memohon ramat untuk umat manusia. Kita harus berdoa lalu mengamati apakah rahmat itu efektip dan dari situ kita berkarya kerasulan. Ia menilai bahwa imam dan bruder sering kurang waktu untuk berdoa banyak, maka para suster yang saleh harus mengisi kebutuhan mereka.

Alasan dua jam doa ini adalah sama seperti doa suku jam, yakni untuk kerasulan. Mereka yang hendak membawa Allah dan Kristus kepada orang-orang harus memiliki Allah dan Kristus di dalam diri mereka. Mereka yang ingin membawa kerajaan Kristus kepada semua orang harus terlebih dahulu dekat dengan Allah melalui doa-doa mereka agar memperoleh rahmat bagi orang yang keselamatannya mereka harapkan.

Kesimpulan

Allah di atas segalanya. Allah di dalam kita.

Inilah moto yang Bapa Pendiri berikan kepada anggota-anggota komunitasnya. Bila kita menulis surat satu sama lain, sebagai tanda persaudaraan, kita harus menulis pada bagian atas halaman surat:

VIVAT DEUS UNUS ET TRINUS IN CORDIBUS NOSTRIS (VDUETICN)

Hiduplah Allah Tritunggal dalam hati kita.

(ANALECTA svd – 63/III Hal 127-144, bdk Nova et Vetera, 1968, 3003-317)