AJSC
|
|
(Verbum SVD, fasciculus 2-3, volumen 44, 2003)
HIDUP DALAM ROH -
SPIRITUALITAS ARNOLDUS JANSSEN
Peter McHugh, SVD
(Diterjemahkan oleh P. Jose Goopio,SVD – Nenuk-Timor)
Ciri khas paling dasar dari spiritualitas Arnoldus
adalah kesadarannya akan kehadiran Allah yang berdiam dalam hati manusia
dan yang menghantar dia menjadi terbuka kepada Roh. Penulis
merefleksikan misteri Allah yang berdiam dalam hati manusia sebagaimana
dihayati oleh Arnoldus. Ada tiga pengalaman yang bisa disebut yang
memainkan peranan signifikan dalam perkembangannya. Penulis menunjukkan
bagaimana kasih khas Arnoldus kepada Roh Kudus membimbing dia bertumbuh
dalam komitmennya kepada Yesus dan misiNya, yang tergambar dalam sikap
Arnoldus terhadap kehidupan religius, Ekaristi, dan Sabda Allah. Hal itu
menolong dia bertumbuh sebagai pribadi dan menemukan kemuliaan wajah
Allah dalam alam, dan khususnya dalam menghargai martabat setiap pribadi.
Penulis menawarkan beberapa refleksi tentang apa maknanya bagi kita
zaman sekarang, khususnya dalam terang kapitel jenderal-kapitel jenderal
belakangan ini. Ia melihatnya sebagai suatu panggilan untuk meneladani
Kristus dalam kontemplasi misioner, belaskasihan, dan pertobatan, sambil
kita menggalang komunio semua orang.
"Pada musim semi," kata Arnoldus Janssen, "kita melihat bagaimana
tanaman-tanaman, terbentuk indah, tumbuh dari tanah yang gelap, kotor, dan
segera berdiri di hadapan kita dalam segala keindahan warna-warninya dan
dengan mata berbinar menatap kita mesra bagai utusan-utusan dari Allah.
Dari mana datangnya mereka itu? Jari Allah, Roh Kudus, sedang bekerja di
sini " (1901, 634-5).1
'Utusan-utusan dari Allah.' Arnoldus melihat kasih Allah dalam segala
sesuatu dan segala sesuatu dalam Allah. Inilah dasar persatuannya dengan
Allah dan kasihnya bagi sesama manusia; inilah sumber antusiasme
misionernya. Konstitusi-Konstitusi menggambarkan Arnoldus sebagai "seorang
manusia yang imannya sangat dalam dan ia seorang pendoa, yang sadar akan
kehadiran Allah yang berdiam dalam hati dirinya dan ia terbuka terhadap
kebutuhan dunia" (SSpS 508). Kesadaran akan kehadiran Allah yang berdiam
dalam hati manusia, yang menjadikan dia terbuka terhadap Roh, adalah ciri
khas paling fundamental dari spiritualitasnya. Dalam artikel ini saya
ingin merefleksikan tentang misteri Allah yang berdiam dalam hati manusia
seperti yang dialami oleh Arnoldus dan melihat apa maknanya bagi kita
zaman sekarang.
Tidak seperti orang-orang kudus lain, perkembangan rohani Arnoldus
tidak ditandai oleh pengalaman pertobatan khusus. Visi dasarnya pada masa
tuanya sudah ada sejak ia masih imam muda. Tetapi, kita bisa
mengidentifikasikan tiga pengalaman yang memainkan peranan signifikan
dalam perkembangannya.
1. Arnoldus – Utusan Hati Kudus: Mengulurkan tangan
Setelah tahbisannya sebagai imam pada bulan Agustus 1861 ia pergi
mengajar di sebuah sekolah menengah kecil di Bocholt. Arnoldus bukan guru
yang luar biasa hebat dan siswa-siswa juga merasa ia tidak mudah didekati,
sekalipun ia cukup dihormati dan sudah pasti ia menjadi pengganti P.
Waldau sebagai Rektor. Tetapi selain tugas mengajar ia juga makin terlibat
dalam Kerasulan Doa. Ia menghabiskan waktunya yang luang maupun liburan
untuk mengajak makin banyak anggota untuk mendoakan intensi-intensi Hati
Kudus.
Sesungguhnya, kasihnya kepada Hati Kudus menguatkan dia dalam pelayanan
imamatnya. Ia menulis: "Sabda Allah tidak puas dengan mencintai kita dalam
ke-AllahanNya; ia ingin mencintai kita dalam kemanusiaanNya yang
diembannya, dalam Hati Kudus Yesus. KasihNya ini besar dan berkobar,
setara dengan kasih abadi Allah sendiri. Jika anda melihat besi yang cair
mengalir keluar dari pot pencair, anda akan berpikir bahwa tidak mungkin
membayangkan sinar yang lebih panas lagi. Tetapi matahari jauh lebih panas.
Matahari adalah gambaran dari energi kasih dalam Hati Kudus."2
Ketika Arnoldus keluar dari lingkungan yang sudah dikenalnya untuk
mengulurkan tangan kepada orang lain, cakrawalanya mulai mengembang sampai
visinya menjadi luas secukupnya sehingga merangkul seluruh dunia. Inilah
dinamika dasar Kristen bahwa kasih kepada Allah, yang ditampakkan dalam
kasih konkret kepada sesama, membuat seseorang menjadi lebih seperti
Kristus. "Hanya kasih sanggup memperlebar hati manusia," tulis Arnoldus
(1882, 431). Yang pasti ialah hatinya diperlebar dan dipenuhi dengan suatu
kerinduan untuk berbuat makin banyak untuk misi Gereja sedunia.
2. Arnoldus – Duta Kasih Ilahi: Melintasi Perbatasan-perbatasan
Ia memutuskan untuk meninggalkan kemapanan jabatannya sebagai guru dan
pergi ke sesuatu yang belum diketahuinya. Pada bulan Agustus 1873 ia
menjadi kaplan dari Suster-Suster Ursulin di Kempen, dan tugas itu
memberikan dia lebih banyak waktu untuk meng-edit majalah misinya Bentara
Kecil Hati Kudus. Ia lebih berhasil sebagai penerbit dari pada sebagai
guru. Ia menantang Gereja Jerman untuk berbuat sesuatu lebih untuk misi.
Khususnya ia mendorong supaya didirikan suatu rumah misi Jerman. Ia tidak
berencana untuk mendirikannya sendiri; tetapi ia bersedia menjadi
pengantara, memanfaatkan majalahnya untuk mengarahkan panggilan dan dana
kepada siapa saja yang akan mendirikannya. Ketika ia menyadari, lewat
desakan Uskup Raimondi dari Hong Kong, bahwa Allah menginginkannya menjadi
pendirinya, ia menerimanya dengan lapang hati dan percaya sepenuhnya pada
Allah, sekalipun disertai keraguan. Dalam hal ini keraguannya beralasan
karena ia tahu bahwa ia tidak memiliki sifat-sifat yang biasanya
diharapkan dalam diri orang yang mau memimpin usaha seperti itu. Salah
satu dari teman kelasnya kemudian berkomentar: "Di antara seluruh kawan
kelas kami Arnoldus Janssenlah yang akan terpilih terakhir untuk menangani
tugas seperti itu." Membuka rumah misi di Belanda karena ada Kulturkampf
di Jerman menjadikan risikonya menjadi lebih besar. Masyarakat lokal
meramalkan bahwa dalam enam bulan usaha itu pasti akan gagal dan ia akan
terpaksa kembali ke rumah. Arnoldus sendiri menulis: "Saya pergi ke Steyl
dengan memikul sebuah batu besar di belakang saya." Kesehatannya tidak
baik dan sekalipun ia mendapat restu dari beberapa uskup, ia mendapat
hanya sedikit dukungan praktis. Guyonan dan komentar sinis dari teman
kelasnya menyakiti hatinya, tetapi Arnoldus memberikan kesan, seperti nabi
Yeremia, bahwa ia tidak ada pilihan lain selain harus mengikuti suara
batinnya. Ia kemudian menggambarkan masa ini: "Saya sepertinya diseret di
belukar berduri." Apa yang membuat dia berkanjang ialah imannya kepada
Allah. "Kasih kepada Allah yang sejati memampukan kita untuk bertahan
dalam segala kesulitan dan penderitaan" (Peraturan SSpS tahun 1891, I
13,5).
Mengambil risiko ini adalah bagian dari jawabannya secara umum terhadap
kasih Allah baginya yang membanjiri dirinya, suatu sikap yang membentuk
seluruh hidupnya. Sesungguhnya tema sentral dari konperensi-konperensinya
dan doa-doanya adalah kasih Bapa yang mengutus PuteraNya dan Roh Kudus
untuk membagi-bagikan kepada kita karunia-karunia kebaikan kasihNya (1891,
330). "Ketiga Pribadi menunjukkan kasih mereka kepada kita dengan cara
yang baru sama sekali dan dengan cara yang belum pernah terdengar. Sang
Sabda, Putera dari keabadian, dengan menjadi manusia; Roh Kudus dengan
datang dan berdiam dalam hati manusia, Bapa surgawi dengan mengutus kepada
kita kedua kekasihNya untuk menyatakan kasihNya kepada kita " (1907, 659).
Bagi Arnoldus ini bukan wahyu di masa lampau, melainkan wahyu yang
berkelanjutan, yang diberikan secara baru setiap hari karena Roh Kudus
yang berdiam dalam hati manusia - "Kasih Allah telah dicurahkan ke dalam
hati kita lewat karunia-karunia Roh Kudus yang memampukan kita untuk
berseru, ‘Abba, ya Bapa’" (Rom 5:5; 8:15). Misi Sang Sabda Ilahi dan Roh
Kudus ialah mempersatukan kita dengan Allah sebagai putera puteriNya.
Demikianlah – dalam suatu khotbah pemberangkatan ke misi, ia berkata: "Misionaris
adalah duta khusus kasih ilahi. Mereka harus mewartakan
perbuatan-perbuatanNya yang mengagumkan dan membangun kerajaan Allah di
mana kuasa Allah belum meraja " (1893, 572).
Sejak dini hubungannya dengan Allah selalu sebagai Allah Tritunggal.
Hal itu mencengkam setiap aspek dari hidupnya dan memberikan inspirasi
bagi karya besar hidupnya; dan hubungannya menjadi lebih personal dan
mendalam, suatu relasi kasih kepada Allah sebagai Bapa, Putera dan Roh
Kudus. Ia ingin mengkontemplasikan dan menyembah Tritunggal Mahakudus pada
tiga takhtanya, yaitu, di surga, dalam Ekaristi, dan takhta mistik (dalam
hati manusia). Mungkin suatu gambaran yang aneh bagi kita zaman sekarang,
namun ia menyoroti dua cara dasar di mana kita manusia berelasi dengan
Allah dan yang keseimbangannya selalu perlu kita jaga. Transendensi Allah,
yaitu, Allah sebagai Pribadi yang berbeda dengan kita tak terbayangkan,
Yang Lain secara total, di hadapanNya segala kata manusiawi dan bayangan
tak ada arti sama sekali, karena "tak seorang pun pernah melihat Allah" (Yoh
1:18). Namun juga imanensi Allah, Allah yang dekat dengan kita, memelihara
hidup kita, yang menggunakan pengalaman kasih manusiawi untuk
menggambarkan paling baik relasiNya dengan kita. Gambaran ini berusaha
mengungkapkan prinsip fundamental dari kehidupan rohani: Allah bukan hanya
ada di luar sana, di luar diri kita; Allah ada juga dalam kedalaman diri
kita, "lebih dekat pada kita dari pada lubuk hati kita" (St. Agustinus).
Untuk memahami relasi intim ini dengan Tritunggal gambaran biblis
tentang Allah berdiam dalam hati manusia sangat menawan hati Arnoldus –
Allah dalam diri kita; kita dalam Allah. Doa motonya, "Vivat Cor Jesu in
Cordibus Hominum! – Semoga Hati Yesus hidup dalam hati semua orang," sudah
dipakai bahkan sebelum ia mendirikan rumah misi, dalam suatu suratnya
tertanggal 19 Maret 1875. Pada hari peresmian rumah misi doa ini
ditempatkan di dinding sebagai moto rumah misi baru.
Kapitel Jenderal Pertama pada tahun 1885 merekomendasikan doa moto
Arnoldus: 'Vivat Deus Unus et Trinus in Cordibus Nostris! – Semoga Allah
Tritunggal hidup dalam hati kita!"3
Suatu pemahaman mendalam yang membuat misteri Allah tinggal dalam hati
manusia menjadi sangat memperkaya Arnoldus adalah kesadarannya bahwa
Tritunggal Mahakudus hidup terus dan bekerja dalam diri kita sama seperti
pada Ke-AllahanNya. Allah Tritunggal, katanya, tidak tinggal dalam diri
kita seperti hantu tinggal dalam kubur, tetapi ia hidup dalam diri kita. "Dalam
kekudusan dan kasihNya, Bapa surgawi sejak kekal memperanakkan Putera dan
mereka berdua menghembuskan Roh Kudus" (1891 Rule, 4). Dinamika ilahi ini
di mana ada saling memberi diri secara total dan saling menerima berlanjut
dalam hati kita dan kita ditarik ke dalamnya. Dalam Roh Kudus kita
disatukan dengan Yesus dalam kasihNya kepada Bapa. Kita terus menerus
menerima kasih ilahi dan hidup sebagai putera puteri, dan memberi respons
dengan menyembah dan menyerahkan diri.
Bukan hanya sebagai individu tetapi sebagai tubuh Kristus, kita
terserap ke dalam misteri dinamika kasih ilahi. Para Suster Adorasi Abadi
dengan adorasi abadi mereka memberikan kesaksian bahwa seluruh Gereja
terpanggil untuk menghayati suatu kehidupan adorasi, memberi diri dan
menerima.
Berkomentar atas teks, "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti
Firmanku, dan Bapaku akan mengasihi dia dan kami akan datang kepadanya dan
diam bersama-sama dengan dia " (Yoh 14:23), Arnoldus berkata: "Adalah
suatu kebiasaan yang sangat berguna mencari Allah dalam hati kita...
Tritunggal Mahakudus memenuhi jiwa dengan rahmatNya, seperti cahaya
memenuhi sebuah kristal atau api memenuhi besi, dan ia meng-ilahi-kannya...
Karena Ia menginginkan kita menjadi peserta dalam kodrat ilahinya, Putera
Tunggal mengambil kodrat kita supaya sebagai manusia Ia bisa
meng-ilahi-kan kita." Lalu Arnoldus menggambarkan relasi baru ini: kepada
Bapa sebagai puteri dan putera, kepada Sang Putera sebagai saudara kita,
kepada Roh Kudus sebagai milikNya (kemudian ia lebih senang menggunakan
istilah 'putera' atau 'anak' dan 'mempelai'). "Oleh karena itu betapa
penting kita berdoa kepada pribadi-pribadi Tritunggal Mahakudus dengan
kasih yang percaya sepenuhnya seperti seorang anak" (1881, 453). Ini sudah
menjadi ciri khas dalam hidup doanya.
Kekaguman Arnoldus pada misteri kehadiran Allah pada takhta mistik di
hati kita, yang menjadikan kita anak-anak Allah, tidak hanya menghantar
dia untuk mengungkapkan rasa terima kasihNya dalam doa, hal ini juga
menjadi sumber terdalam dari panggilan pribadinya sebagai pendiri dan
misionaris. Dalam suatu meditasi untuk para Bruder tentang "Takhta Mistik"
ia menyatakan bahwa kebesaran panggilan misioner terletak pada mendirikan
takhta-takhta mistik ini dalam hati semua orang. “Iman datang dari
mendengar sabda Kristus” (Rom 10:17). Betapa dahsyat kata ini bagi para
anggota Serikat Sabda Allah! Sabdamu, yang dibentuk dari Sabda Yesus,
dimaksudkan untuk mentobatkan orang – untuk menyalakan cahaya, menghalau
kegelapan, ...membangun bait-bait bagi Allah yang hidup" (1890, 455).
Dalam suatu retret sebelum pemberangkatan ke misi ia berkata: "Merenungkan
tentang ketiga takhta Allah akan menolong kita melihat betapa bernilainya
karya misioner kita. Bayangkan bahwa kita bisa melihat ke dalam hati semua
orang dalam keadaan berahmat. Kita akan melihat hati mereka diresapi dan
diliputi cahaya dan pada pusatnya Allah Tritunggal. Betapa indah
pemandangan itu! Tetapi kita akan melihat juga bahwa jumlah mereka itu
sangat terbatas di banyak negara dan kita merasa terdorong untuk menolong"
(1903, 296). Dorongan untuk menolong inilah yang menggerakkan dia untuk
melakukan semampunya untuk misi. Karena untuk tujuan seperti ini tak ada
pengorbanan yang terlalu besar. Sesung-guhnya korban dan penderitaan
dianggap karunia-karunia, "tanda-tanda kasih Allah bagi kita manusia,"
karena dalam persatuan dengan Yesus korban kita akan membantu menggalang
kerajaan kasih Allah yang setia. Ia suka menyoroti point ini ketika
memberikan salib misi kepada misionaris yang akan berangkat ke misi.
3. Arnoldus – Hamba Kasih Abadi: Kembali ke Rumah
Pengalaman ketiga bukanlah peristiwa tunggal melainkan suatu pendalaman
relasinya dengan ketiga Pribadi, lewat kasih khusus kepada Roh Kudus.
Arnoldus telah lama mempunyai kasih mendalam kepada Roh Kudus sejak awal.
Namun menghayati misteri Allah yang berdiam dalam hati manusia membuat dia
mencintai Roh Kudus semakin dalam. Dalam Peraturan SVD pertama pada tahun
1885 ia menyebut Roh Kudus sebagai "Bapa Serikat kita." Pada hari Senin, 3
October 1887, di Gereja Vinsensian di Wina, ia mempersembahkan diri "secara
total dan selama- lamanya" kepada Roh Kudus. Ia melihat ini juga sebagai
model untuk pertumbuhan bagi para SVD dan pada pesta Pentekosta berikutnya
(1888) ia mempersembahkan Serikat kepada Roh Kudus. Setahun kemudian ia
mendirikan Kongregasi SSpS dengan sebutan Abdi Roh Kudus, dengan tujuan
khusus "mencintai Roh Kudus sebagai Roh kasih " (SSpS 1891, II, 2.1).
"Saya mempersembahkan diriku sepenuhnya kepada Roh Kudus, jiwa dan
raga, sebagai korban dan memohon kepadaNya rahmat untuk mengenal kebesaran
kasihNya dan saya ingin hidup dan mati bagi Dia saja... Roh Kudus adalah
jantung Gereja dan juga jantung Allah, di dalam Dia Allah mencintai
DiriNya dan juga mencintai manusia. Semoga Roh Kudus memberikan saya
rahmat untuk hidup dan tinggal dalam hati kudus ini dan bertindak selalu
sesuai dengan kehendak suciNya.”4
Kita bisa melihat betapa penting persembahan dirinya ini bagi Arnoldus
secara pribadi oleh fakta bahwa duapuluh tahun kemudian ia masih bisa
mengingat tanggal dan tempat. Ia menggambarkannya sebagai salah satu
rahmat terbesar dalam hidupnya. Itu merupakan suatu pengalaman yang
menyentuh hatinya secara sangat dalam dan membentuk pandangan rohaninya
untuk sisa duapuluh satu tahun hidupnya. Itu merupakan suatu pengalaman
yang menghantar dia mengulurkan tangan kepada orang lain. ‘Dalam hati ini’
ia temukan tempat kediaman sejati dan menemukan di sana juga seluruh kaum
manusia. Itu juga menguatkan dia dalam keprihatinan yang menguasai seluruh
hidupnya, yaitu, mengenal dan mengikuti kehendak Allah.
Apa yang mengesankan tentang cintanya kepada Roh Kudus yang semakin
berkembang ialah bahwa cinta itu menghantar dia kepada kasih yang lebih
besar kepada Bapa dan kepada Yesus sebagai Hati Kudus. Cinta itu
menghantar dia menemukan secara lebih meyakinkan Allah Tritunggal di pusat
keberadaannya, dan gerakan ke dalam batinnya ini sekaligus menghantar dia
keluar kepada manusia. Ia menegaskan bahwa Roh Kasih adalah daya yang
menghidupkan bagi misi.
Suatu nama yang sering ia gunakan untuk Roh Kudus adalah Kasih atau
Kasih Abadi "karena, Ia berasal dari kasih Bapa dan Putera, Ia adalah
kasih Ke-Allahan. Dalam Dia Allah mencintai diriNya; dalam Dia Allah
mencintai dan memberkati makhluk ciptaanNya... Semoga kita mengakui
sepenuhnya kasih suciNya dan sebagai balasan dengan kesetiaan teguh
mencintai Dia dengan sepenuh hati sebagai anak dan pengantinNya" (SSpS
1891 I, 6). "Menjadi anak dari Kasih Abadi seseorang harus menginginkan
dengan sungguh-sungguh kasih suci dan berusaha bertindak atas dasar kasih
dari pada atas dasar akan mendapat imbalan. Sebagaimana api bertahan
karena bahan bakar, demikian pula kasih bertahan oleh korban yang
dipersembahkan demi pengabdian kepada Kasih Abadi " (I, 13.1-2).
Roh Kuduslah yang menegakkan kerajaan kasihNya dalam hati kita dan hati
semua orang (I, 13.2). Arnoldus menyukai ungkapan, 'kerajaan kasih.'
Karena Roh Kudus adalah Allah yang mengulurkan tangan dalam kasih,
Arnoldus melihat Roh Kudus sebagai daya misi. Ia berdoa: "Semoga kuasa
Bapa menguatkan kita, semoga kebijaksanaan Putera menerangi kita, dan
semoga kasih Roh Kudus menghidupkan kita dan semua orang selama-lamanya.
Semoga pengenalan dan kasih Allah menerangi dan menggembirakan semua orang
di dunia."5 Yesus
merangkum misiNya sebagai membawa kehidupan secara berlimpah, yang berarti
mengenal Bapa dan Yesus (Yoh 10:10; 17:3). Inilah hidup sejati, tujuan
hidup kita manusia. Dua doa moto Arnoldus mulai dengan kata 'Vivat!' –
Semoga Allah, semoga Hati Yesus, hidup atau menjadi hidup dalam hati kita.
Arnoldus berdoa supaya kita bisa hidup dalam Roh, "Roh pemberi hidup,
hidupkanlah kami!" 'Vivat! - Hiduplah' merangkum spiritualitasnya dan
harapan misionernya untuk dunia.
4. Kehidupan dalam Roh
'Vivat! - Hiduplah!' Kehadiran Roh menghidupkan dalam segala aspek
pribadi manusia, dan kita melihat ini dalam pertumbuhan Arnoldus sebagai
pribadi. Bertepatan dengan minat Arnoldus yang berkembang dalam karya Roh
Kudus bisa itemukan usaha yang makin besar untuk menjadi orang yang secara
personal lebih memberi perhatian kepada orang lain.
Kelembutan watak yang bisa dilihat pada masa tuanya nampaknya lebih
dari pada hanya karena pematangan usianya. Keterbukaannya terhadap Roh
Kudus membantu dia mendengarkan kritik-kritik dari rekan-rekannya. P. Gier,
umpamanya, pernah memberikan dia teguran 55 halaman! Ia berusaha secara
khusus untuk memperbaiki diri. "Saya berdoa setiap kali sesudah Misa untuk
memperoleh rahmat untuk mengerti bagaimana seharusnya seorang bapa yang
bijaksana atau hati seorang ibu yang bijak bertindak terhadap bawahannya."6
Anton Hilger, sekretaris pribadinya, memperhatikan bahwa Arnoldus
mengunjungi samasaudara yang sakit lebih dari pada superior lain yang
pernah ia kenal. Nampaknya ada hubungan antara Arnoldus membuka hatinya
kepada Roh Kasih dan keluwesan dan kebapaan yang makin berkembang. Kasih
yang dimintanya kepada Roh Kudus menjadikan dia pribadi yang semakin
mengasihi. Dan, nampaknya, usaha-usahanya untuk menjadi lebih lembut
dengan orang lain selanjutnya membakar api kasihnya kepada Roh kasih yang
lembut. Roh Kudus membuka kita kepada orang lain; kita berjumpa Roh Kudus
dalam orang. Pada pesta namanya Arnoldus berkata kepada komunitas: "Saya
mohon kepada Hati Kudus dan kasih abadi Roh Kudus untuk membagikan dengan
saya kasih ini. Dan jika anda ingin memberi saya sesuatu, maka tolong saya
berdoa untuk rahmat mendapat bagian dari kepenuhan kasih ilahi dalam
hatiku yang dingin. Dan apa yang saya pikirkan di sini pertama-tama
bukanlah cinta kepada Allah tetapi kasih bagi anda kalian. Betapa saya
bersyukur kepada Tuhan Allah dan kepada anda jika anda mendoakan saya
untuk mendapat kasih seperti itu" (1901, 610-11). Bagi mereka yang
mengenal dia pada masa mudanya, Gier berkata, Arnoldus nampaknya berubah
menjadi pribadi lain pada masa tuanya. Aspek Arnoldus inilah tentunya
memberikan semangat kepada kita – jika ia bisa melakukannya, kita juga!
Kepercayaannya yang penuh keyakinan pada kedekatan Roh Kudus memberikan
Arnoldus keberanian untuk menghadapi tantangan-tantangan baru. Hal ini
sudah menjadi jelas dalam inisiatifnya pada pembukaan rumah misi. Dan hal
itu membantu dia juga menjadi seorang pionir dalam banyak hal penting –
memulai percetakan, menggalang sistem promotor, belajar antropologi dan
ilmu-ilmu sosial,7
pelatihan khusus untuk para Bruder dan Suster, sebuah kolam renang di St.
Gabriel (yang pertama di sebuah seminari di seluruh Eropa Sentral!). Ia
tidak membuat keputusan-keputusan cepat-cepat tetapi selalu menyerahkannya
kepada bimbingan Roh Kudus dan minta nasehat kepada orang lain. Jika ia
percaya bahwa tindakan tertentu adalah kehendak Allah, ia berjalan terus
dengan keberanian dan keyakinan. Menjadi terbuka kepada Roh Kudus membuat
dia kurang prihatin tentang apa yang akan dikatakan orang tentang dia.
Keterbukaannya terhadap cara-cara baru haruslah menjadi ciri khas kita
pengikutnya sekarang (Konst. SVD 104).
5. Wajah Yesus
Ciri khas yang paling menonjol dari perkembangan rohani Arnoldus pada
masa tuanya adalah kasihnya kepada Roh Kudus. Persembahan dirinya adalah "untuk
seumur hidup." Berapa kali Roh Kudus disebut dalam catatan Arnoldus "Catatan
Pribadi tahun 1906" menyatakan peranan signifikan yang dimainkan oleh Roh
Kudus dalam hidupnya, sehingga "ada suatu macam keberanian
mengidentifikasikan diri dengan Roh Kudus dan kata-katanya sepertinya
berasal dari Roh Kudus" (A. Rohner).8
Namun apa yang tidak kalah menonjol bagi saya ialah bagaimana kasih kepada
Roh Kudus membawa dia lebih masuk ke dalam misteri Tritunggal Mahakudus
dan membuat dia lebih menegaskan panggilan misionernya ialah meneladani
Kristus. Kasihnya kepada Yesus sebagai Hati Kudus tetap berperan sentral.
Baris terakhir dari surat perpisahannya kepada Suster-Suster klausura,
tertanggal 8 Desember 1908, berbunyi: "Saya minta kepada anda kalian untuk
mengingat saya dalam doa, tetapi saya ingin anda berdoa secara khusus
supaya Hati Kudus Yesus tinggal dalam hati semua orang.”9
Kata paling akhir dari mulut Arnoldus ketika ia berbaring sekarat adalah
nama 'Yesus.' Bisa dikatakan bahwa makin dekat ia kepada Roh Kudus makin
nampak jelas pula pribadi Yesus dan Bapa. Hal ini nampak dengan pelbagai
cara.
Hidup Religius. Sekalipun ada tanda-tanda bahwa Arnoldus telah
memikirkannya sebagai satu kemungkinan sejak awal, pengikraran kaul
religius bukanlah bagian asli kehidupan komunitas perdana di rumah misi.
Janji ketaatan dan hidup selibat imamat sudah dianggap cukup. Lalu mengapa
komunitas memilih memasukkan hidup berkaul itu dalam Kapitel Jendral
Pertama pada tahun 1885? Sikap Arnoldus jelas. Ia melihat hidup religius
sebagai jawaban terhadap kasih pertama Allah terhadap kita dalam tiga cara:
yaitu, dedikasi total dirinya dan segala kekuatannya kepada Allah, sebagai
pembaktian seluruh hidupnya, dan sebagai korban sempurna bagi Allah. "Ketiga
nasehat injil membentuk suatu korban yang setotal mungkin dalam hidup ini.
Korban itu suci karena dipersembahkan untuk berkenan kepada Allah dan
untuk membaktikan diri kepadaNya sebagai suatu korban bakaran. Tetapi ia
harus dipersembahkan di atas altar kasih. Ya Allahku betapa pantas Engkau
mendapat persembahan seluruh diriku! Semoga kerinduan kasihku akan
terpenuhi!" (1893, 95). Ia ingin menempatkan hidup religius dalam konteks
trinitaris dan ia juga menekankan dimensi apostoliknya: "Kepada siapa saya
telah membaktikan diri? Kepada Bapa untuk memenangkan putera dan puteri
bagiNya, kepada Putera untuk memenangkan saudari dan saudara dalam
citraNya, kepada Roh Kudus untuk bekerja demi tercurahnya rahmatNya ke
atas dunia" (1883, 69).
Di atas segalanya ia melihat hidup religius sebagai meneladani
pemberian diri Kristus dalam inkarnasinya, hidupnya, misinya dan wafatNya.
Ia melihat ketiga kaul bagai tiga paku yang mengikat kita pada salib
Kristus demi hidup dunia. Peraturan tahun 1891 menyatakan: "Inti dari
Peraturan kita adalah sebagai berikut: dengan hidup miskin, murni dan taat
samasaudara (samasaudari) meneladani hidup Yesus Kristus, memuliakan Bapa
dan Putera dan Roh Kudus, dan memaklumkan Sabda Allah di bumi, khususnya
di antara orang-orang kafir." Peraturan SSpS memasukkan frase signifikan
“sebagai perempuan." Dalam dua kapitel jenderal terakhir hal ini telah
menjadi aspek penting dari spiritualitas SSpS dan
implikasi-implikasinyanya telah direfleksikan. Maka Kapitel Jenderal 1996
menekankan, umpamanya, tantangan kepada Suster-Suster sekarang ialah
memperdengarkan "suara-suara kita atas nama semua perempuan dalam situasi
yang menekan mereka dan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan" (hal. 32).
Dalam suatu upacara pemberangkatan ke misi Arnoldus mengungkapkan tugas
para Suster yang mau berangkat: "Kamu membawa Tuhan Yesus dalam hati kamu.
Sebagai religius kamu telah membina kasih khusus bagiNya. Pergilah
sekarang untuk memaklumkan kasih ini... Ajarilah perempuan-perempuan dan
anak-anak Afrika supaya mencintai Yesus" (1897, 586).
Ekaristi Kudus. Kasih Arnoldus bagi Roh Kudus memperkuat juga
cintanya kepada Ekaristi kudus karena hal itu menghantar dia menghargai
peranan Roh Kudus dalam sakramen ini. Dalam suatu doa pada tahun 1889 ia
memohon: "O Roh Kudus, berikan kepada mereka [orang-orang dari agama
lain], kepada siapa para pewarta SabdaMu belum datang, buah-buah rahmat
Yesus dalam Sakramen Mahakudus, maupun belaskasihan dan kebaikanNya,
dengan kasih seperti yang membuat Sabda yang menjelma berdiam dalam hati
kami dan memberikan diriNya kepada kami sebagai makanan. Kami menyapa
Engkau, O Roh Kasih, bersama dengan Bapa dan Putera dalam Sakramen Kasih.
Amin" (AN 56, p. 146). Arnoldus menggambarkan belaskasihan dan kebaikan
pada pintu tabenakel di Gereja di Steyl. Tangan-tangan Bapa memegang Yesus
yang mati yang berbaring di pangkuanNya, menunjukkan PuteraNya kepada
dunia, dengan Roh Kudus melayang di atas. Orang bisa tersentak oleh kasih
Bapa yang penuh belaskasihan bagi dunia. Gambar ini membantu kita memahami
kepercayaan Bapa Pendiri bahwa Ekaristi adalah perayaan kasih yang
berbelaskasihan ini "untuk kehidupan dunia," dan orang merasa tertarik
untuk memberi respons kepada cinta seperti itu dengan meneladani Kristus
yang tersalib. Di atas altar Arnoldus menempatkan lima jendela kaca
berwarna indah untuk mengingatkan komunitas supaya membawa ke dalam
Ekaristi masing-masing dari kelima benua dunia. Ekaristi merangkul seluruh
dunia.
Doa yang baru saja dikutip mengungkapkan keyakinan Arnoldus bahwa daya
Ekaristi mampu mentransformasikan dan dengan demikian bersifat misioner,
sama seperti yang dinyatakan oleh pintu tabernakel dan jendela dari sudut
pandang yang lain. Bagi dia Ekaristi adalah hati dan pusat setiap
komunitas misioner. Di dalamnya Arnoldus mengalami kasih Allah untuk dunia
dan memberi respons terhadap kasih itu bersama Yesus, dan ia diberdayakan
oleh Roh Kudus untuk membawa kasih yang menghidupkan ini kepada semua
orang. Ekaristi adalah sesungguhnya "daging Kristus untuk kehidupan dunia...
Barangsiapa makan dagingku dan minum darahku tinggal di dalam Aku dan Aku
tinggl di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku
hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa memakan Aku, akan hidup oleh
Aku" (Yoh 6:51.56). Maka Ekaristi adalah juga terutama perayaan misteri
Allah yang hidup dalam hati manusia – Allah di dalam kita, kita di dalam
Allah – dan dari panggilan misioner kita untuk membagi-bagikan kasih ini
dengan semua orang.
Sabda Allah. Kitab Suci adalah tempat khusus untuk mengalami
kehadiran Roh Kudus yang menghidupkan, yang adalah "inisiator Kitab Suci,
karena di dalamNya orang menulis Sabda Roh Kudus" (1907, 658). Teks-teks
yang sering dipakai Arnoldus adalah teks-teks yang berbicara tentang
kehadiran Roh Kudus di dalam hati kita sebagai anugerah Bapa dan Putera.
Dalam Konstitusi perdana (1885) nama ‘Sabda Allah’ sudah diartikan
menunjuk kepada:
"Sabda Bapa, yang adalah Putera;
Sabda Putera yang menjelma, yang adalah Injil Yesus Kristus;
Sabda Roh Kudus, yaitu, seluruh Kitab Suci dan sabda para nabi, para rasul
dan para imam sejauh mereka telah mewartakannya di bawah bimbingan Roh
Kudus." (1891 Peraturan, 1.1)
Kitab Suci adalah Sabda Kasih Bapa yang berkelanjutan bagi kita dalam
Roh. "Betapa dahsyatnya," tulis Arnoldus, "kata-kata Kitab Suci. Semoga
para samasaudara kita sungguh-sungguh menghargainya, khususnya
bagian-bagian yang, jika kita bisa katakan, diresapi sangat dalam oleh Roh
Allah, karena mereka berbicara secara sangat jelas tentang keagungan Allah
dan keajaiban karyaNya yang Ia prakarsai di atas bumi ini dalam GerejaNya
yang suci." Sangat penting khususnya, tambah Arnoldus, bagi para imam
Serikat Sabda Allah menjadi pencinta khusus Kitab Suci supaya bisa
melaksanakan tugas imamatnya (AN 55, hal. 56-57).
Arnoldus membuat usaha khusus untuk mendengarkan Roh Kudus dalam Kitab
Suci dan dalam segala aspek hidupnya. Mengenal dan melaksanakan kehendak
Allah adalah perhatiannya seumur hidup, dan yang lain dinomorduakan –
hidup yang enak, penghargaan atau kritik dari orang lain, dll. Ia tidak
pernah bosan tegaskan bahwa devosi khusus kepada Roh Kudus nampak paling
jelas apabila kita berusaha dengan jujur mengikuti kehendak Allah. "Roh
Kudus adalah Bapa kita secara khusus dan kita mengikuti kehendakNya yang
suci apabila kita mendengarkan inspirasi ilahiNya dengan penuh perhatian
dan berusaha untuk mengikutiNya dengan setia" (SSpS 1891, I, 6.3).
Revisinya yang terakhir dari Doa Suku Jam berakhir dengan: "Utuslah kepada
kami Roh Kudus dari Bapa. Mampukan kami mengenal tuntutanNya dan mengikuti
bimbingannya dengan tekun."
6. Melihat Roh Kudus dalam segala-galanya
Sikap disermen ini datang dari apa yang disebutnya "Berjalan di hadirat
Allah" (Peraturan tahun 1891, V,14). Ia menulis: "Para Suster haruslah
dengan rajin mengingat Allah yang hadir di segala tempat, dan sambil
mereka menyembah Dia dalam takhtaNya di surga dan dalam Ekaristi, mereka
seharusnya juga berada di antara mereka yang sudah memilikinya dalam hati
mereka lewat rahmat Roh Kudus sesuai dengan perkataan Kitab Suci: 'Tidak
tahukah kamu bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di
dalam kamu?' (I Kor 3:16). O, betapa beruntunglah kita apabila memiliki
Tamu manis dan mencintai serta menyembah Dia, yaitu, Bapa dan Putera dalam
persatuan dengan Roh Kudus" (SSpS 1891, V, 14). Banyak orang menggambarkan
Arnoldus sebagai orang yang selalu hidup di hadirat Allah. "Tentu
kesalehan sejati pada intinya adalah persatuan intim dengan Allah yang
disadari, berkanjang, disertai penghayatan kebajikan secara heroik," kata
P. Hilger. "Jika demikian, saya bisa katakan tiada santo yang memiliki
kesalehan yang lebih tinggi dari pada kesalehan Arnoldus."10
Arnoldus menawarkan banyak usulan bagaimana menggalang kesadaran hidup
selalu di hadirat Allah: Doa Suku Jam, menulis doa moto di surat-surat
kita. Warna hijau mengingatkan dia akan kasih Bapa, warna merah akan
Putera dan warna putih akan Roh Kudus (AN 55, p. 27). Segala sesuatu bisa
menolong untuk mengingat kehadiran Allah: "sebuah gereja di kejauhan, atau
juga matahari, bulan, bintang-bintang, badai, gunung-gunung, sungai-sungai,
lembah-lembah, binatang-binatang dan tanaman-tanaman" (SSpS 1891, VII,
2.7). Dalam konperensi-konperensinya ia sering mengacu kepada bukti-bukti
kehadiran Allah dalam keaneka-ragaman barang-barang: sebuah weker,
setangkai bulu dengan batangnya yang keras tetapi bulu-bulunya lembut,
sebuah paruh burung, aroma-aroma yang menyenangkan, cacing tanah hina yang
merayap sepuluh meter per jam! (1903, 673) Dalam suatu konperensi Arnoldus
minta hadirin untuk bermeditasi tentang tangan manusia atau tentang bentuk
simetris mata (1883, 787); dalam konperensi lain bermeditasi tentang telur
burung (1896, 369). Ia menjelaskan panjang lebar betapa seninya pekerjaan
alam untuk menambahkan dimensi sepotong tulang menjadi seperempat lebih
panjang! (1894, 44) Berefleksi tentang pergandaan roti dalam Yoh 6:1-13,
ia menggambarkan bagaimana pohon terigu mengambil kimia dari bumi dan
udara dan membentuk mereka menjadi batang, lalu menjadi pulir, yang
menghasilkan tepung terigu untuk membuat roti - "suatu mujizat alamiah."
Mujizat alamiah ini dan mujizat supernatural Yesus menunjukkan kuasa Allah
yang mengagumkan yang Dia sendiri miliki dari kodratnya tetapi yang Ia
rela bagikan dengan seluruh alam ciptaan. Maka "marilah kita menyembah
keagungan Allah dan lewat kontemplasi semuanya ini hendaklah kita
dikuatkan dalam iman kita" (1897, 635-6). Air mengingatkan dia akan
kebesaran Allah yang mengetahui persis berapa banyak tetesan air ada dalam
sungat Rhine yang mengalir ke laut. Ada begitu banyak aspek alam yang
berbicara kepadanya tentang Roh pemberi hidup. "Roh mencintai maka ia
membagi-bagikan karunia-karunia indah dengan makhluk ciptaan, sama seperti
kehidupan itu sendiri. Sangat mengagumkan melihat bagaimana bunga-bunga
indah dengan wangi-wangiannya muncul dari tanah dingin dan hitam.
“Betapa besar kebutuhan saya akan kasih ini!" (1895, 110) P. Hilger
mengingat: "Ia mempunyai mata yang peka untuk seluruh alam ciptaan, kaum
manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan... Dalam segala hal ia menjumpai
Allah yang ia cintai dalam kebijaksanaanNya, kuasaNya dan keindahanNya...
Dalam segala sesuatu P. Arnoldus melihat kemuliaan wajah Allah bersinar...
Dengan seribu satu akar, kasihnya kepada Allah menarik gizi dari segala
sesuatu."11
7. Roh Kudus membuat kita pantas dicintai
Arnoldus melihat "kasih Allah yang tak terperikan" dalam segala misteri
keselamatan besar - inkarnasi, hidup dan misi Kristus, penderitaan dan
wafatNya, dan pemberian RohNya kepada kita sebagai Tuhan yang telah
bangkit. Selain nama-nama Allah, kata yang paling sering disebut dalam
khotbah dan konperensinya adalah kata 'kasih.' Dalam bab singkat tentang
semangat Kongregasi SSpS dalam Peraturan tahun 1891 kata ‘kasih’ dipakai
sebanyak 75 kali.
Dari kekaguman Arnoldus akan kasih Allah muncul dua konsekwensi paling
penting. Salah satunya adalah rasa ngeri terhadap dosa, bahkan dalam
bentuknya yang paling ringan pun, dan kerinduannya untuk mempersembahkan
silih atas dosa-dosa melawan Allah yang sangat mengasihi kita. Kasih Allah
sangat jelas baginya, hampir meng-hanyutkan, namun Arnoldus tidak pernah
berpuas diri dalam kasih Allah. Baginya kerendahan hati adalah tuntutan
penting. Ia menghayati dan merekomendasikan praktek asketis traditional,
sama seperti berpuasa dan penitensi fisik. Sekalipun ia percaya bahwa ia
adalah "seekor cacing hina" di hadapan Allah, ia tahu bahwa rahmat kasih
Allah telah menjadikan dia seorang putera, seorang saudara dan sebuah bait
di mana bersinar kemuliaan Allah, dan ia tidak pernah bosan menghitung
karunia-karunia yang ia telah terima. Dalam dua retret pemberangkatan ke
misi (1882, 1883) konperensi-konperensi awal adalah tentang Bersyukur dan
Berterima kasih. "Berterima kasih ditunjukkan paling baik dengan kasih"
(1895, 239).
Yang kedua adalah penghargaannya terhadap martabat dan keindahan setiap
pribadi – nilai jiwa-jiwa, seperti diistilahkannya. Satu konperensi dalam
retret tahun 1883 sebelum pemberangkatan ke misi adalah tentang "Nilai dan
Martabat Jiwa-jiwa," yang diciptakan menurut citra Allah, dan bagi
merekalah Yesus mati dan rela mati berulang-ulang lagi jika perlu. "Sangat
mengesankan apabila kita mengingat bahwa Yesus akan rela mati lagi dengan
cara yang sama sekalipun anda adalah satu-satunya orang di dunia" (1895,
107, 265).
Kebaikan dan kasih Allah dilihat secara istimewa ketika Ia mengangkat
manusia ke dalam martabat anak-anak Bapa yang tak layak diperoleh,
martabat saudara dan saudari Putera, martabat bait dan pengantin Roh
Kudus. Dalam khotbah Pentekostanya yang terakhir Arnoldus mengungkapkan
ini dengan cara yang sederhana namun meng-hangatkan hati. Ia berbicara
tentang tiga Pesta Besar kasih Allah: Natal - yang menyatakan kasih Bapa,
Paska - yang menyatakan kasih Putera, dan Pentekosta - yang menyatakan
kasih Roh Kudus. Lalu ia menambahkan kalimat yang bisa dilihat sebagai
rangkuman seluruh hidupnya. Roh Kudus "adalah Allah kasih yang datang
untuk membuat kita manusia yang pantas dicintai di mata Allah dan untuk
menyatakan kasih Allah bagi mereka" (1907, 680). Semangat misinya mengalir
langsung dari penghargaan akan kasih Allah yang berdiam dalam hati manusia
dan bagaimana kasih itu telah mengangkat martabat setiap pribadi.
8. Bagi kita Sekarang?
Bagaimana kita bisa membuat pokok-pokok kunci visi rohani Arnoldus
menjadi dasar respons kita kepada Allah dan terhadap realitas dunia
sekarang?
A. Tridarma kita
Arnoldus menggunakan istilah-istilah teologis untuk menggambarkan visi
yang membentuk dasar hidup rohaninya. Tetapi spiritualitas bukanlah
kerangka teologis yang perlu dijelaskan dan dikomentari. Spiritualitas
adalah sesungguhnya bagaimana Roh Kudus mengubah seseorang menjadi lebih
seperti Kristus, yaitu, menjadi pribadi yang makin seperti yang diimpikan
Allah. Inilah alasannya, Peraturan tahun 1891 (I, 2) menggambarkan cara
hidup kita sebagai suatu panggilan untuk meneladani kehidupan Yesus
Kristus lewat ketiga kaul dan memaklumkan Sabda Allah di dunia, khususnya
di antara orang-orang kafir. Lalu Peraturan itu menjelaskan bahwa
transformasi menjadi seperti Kristus berarti menjalankan tiga tugas kita,
yaitu, a) mencintai Allah di atas segalanya, b) mencintai sesama seperti
diri sendiri, dan c) berusaha hidup sempurna. Inilah tugas semua orang
Kristen, tulis Arnoldus. Peraturan ingin menerangkan bagaimana kita bisa
memenuhi tugas ini dengan cara khas kita mengikuti Kristus. Kapitel
Jenderal-Kapitel Jenderal kita yang terakhir juga menekankan ketiga bidang
perkembangan ini bagi kita, baik sebagai individu maupun sebagai komunitas.
Kita bisa katakan bahwa panggilan kita ialah mengikuti Kristus dalam
kontemplasi misioner, belaskasihan, dan pertobatan, sambil kita
mengusahakan komunio dengan semua orang.
a) Kontemplasi Misioner – melihat seperti Kristus
Kontemplasi adalah kesadaran akan Allah yang berdiam dalam hati kita,
yang dikenal tidak hanya oleh budi melainkan lebih oleh hati yang
mencintai, "penghargaan kontemplatif atas kehadiran Allah dalam segala
sesuatu dan dalam setiap situasi" (SVD 1988, p. 51). Sikap ini melihat
hidup manusia sebagai jawaban kepada Allah yang telah mencintai kita lebih
dahulu dan yang telah mengutus PuteraNya supaya kita bisa memperoleh hidup
dalam Dia (I Yoh 4:9-10). Bapa Pendiri kita melihat dengan jelas hidupnya
dari sudut pandang biblis ini. Kontemplasi adalah suatu proses seumur
hidup untuk memperdalam kemampuan kita untuk mengenal dan merangkul Allah,
diri kita dan seluruh realitas, dan memberi respons dengan kasih dan
belaskasihan.
Kita berjumpa dengan Allah dalam situasi-situasi misioner kita.
Konstitusi 103 menegaskan bahwa teladan Sabda yang telah menjadi manusia
menentukan cara kita dipanggil untuk bermisi, yaitu, dengan memasuki
kebudayaan lain sepenuhnya, bersikap terbuka dalam dialog dengan semua
orang, dan memiliki kasih khusus bagi orang miskin dan yang terpinggirkan.
Kapitel SVD tahun 1988 mengungkapkan panggilan kita untuk misi dengan
istilah "beralih" kepada ketiga kelompok ini. Namun mereka bukanlah tiga
kegiatan yang terpisah melainkan sikap-sikap dasar, karena pada level
terdalam ketiganya membentuk satu kesatuan. Ketiga “beralih” itu bukanlah
hanya kegiatan yang kita lakukan; melainkan mereka adalah ungkapan misteri
inti dari keberadaan (identitas) kita sebagai SVD/SSpS. "Kita tidak hanya
mengerti misi sekarang sebagai suatu kegiatan, sebagai apa yang kita
lakukan, tetapi sebagai keberadaan kita yang aktual; misi adalah identitas
kita. Misi adalah kontemplasi, suatu sikap disermen, yang memampukan kita
berdialog dengan Allah, satu dengan yang lain, dengan orang lain dalam
situasi mereka" (SSpS 1996, 25; 26).
Beberapa ordo religius mempunyai mistisisme khas, yaitu, suatu cara
memahami dan berelasi dengan Allah. Kita temukan mistisisme khas kita
dalam proses beralih kepada orang lain. Untuk menggarisbawahi fakta bahwa
kita berjumpa Allah dalam misi kita, suatu sisi khusus dari pengalaman
kita akan Allah dalam setiap beralih disoroti oleh Kapitel Jenderal
sebagai ilustrasi:
- "Kita menganggap situasi lintas-budaya di mana kita berada sebagai
sakramen kelimpahan Allah" (SVD 1988, hal. 52).
- "Dialog sejati menghantar semua peserta menuju suatu pertobatan yang
lebih penuh kepada realitas Allah yang selalu lebih besar" (hal. 55).
- "Orang miskin adalah suatu misteri keselamatan bagi semua orang dan
suatu sakramen khusus kehadiran Allah"; "suatu pengalaman akan Allah
yang sangat dalam sebagai sumber segala belaskasihan (compassion)" (hal.
53; 54).
Maka kontemplasi berarti mulai melihat dunia secara berbeda, melihatnya
seperti Yesus. Gambaran misi sebagai beralih menekankan bahwa inilah cara
kita mengambil bagian dalam misteri paska Kristus yang berkelanjutan
dengan mati untuk diri sendiri dan bangkit kepada kehidupan yang lebih
limpah. "Dalam kuasa Roh Kudus kita mengikuti Dia, memuliakan Bapa dan
membawa kehidupan yang lebih berlimpah kepada orang lain" (Prolog SVD/SSpS).
Sebagai misionaris kita juga mengambil bagian dalam kepenuhan hidup lewat
perjumpaan dengan Allah dalam misi kita dan dalam diri orang-orang yang
kita layani. Allah yang berdiam dalam diri saya memampukan saya untuk
berjumpa dengan Allah yang berdiam dalam diri orang lain dan memahami,
bukan hanya dalam intelek tetapi dengan energi kasih, bahwa kita semua
hidup dalam Allah. Kontemplasi misioner adalah kesadaran yang makin jelas
dan pengalaman akan semua orang bersatu dalam komunio dengan Allah. Dalam
kehidupan ini kita hanya melihat secara samar-samar seperti dalam sebuah
cermin. Tetapi oleh cahaya Sang Sabda kita belajar melihat makin jelas
lagi dan oleh rahmat Roh Kudus kita ditarik lebih masuk ke dalam misteri
ini dan dihantar untuk menyesuaikan hidup kita.
Maka doa kontemplatif bukanlah terutama waktu yang dikhususkan untuk
berbalik kepada Allah berlawanan dengan memikirkan orang lain. Doa pada
level terdalamnya ialah memikirkan dan hidup di hadapan Allah, kalau tidak
kita mencabut Allah dari kehidupan dan kegiatan kita sehari-hari. Namun
waktu-waktu khusus untuk berdoa penting sekali – sama penting dengan tidur,
bagaimana pun sibuk kita. Kita perlu meluangkan waktu untuk menyendiri
bersama Allah, bukan bersembunyi di balik ‘doa-doa’ atau bacaan, tetapi
hanya berada untuk Allah sendiri. Arnoldus sendiri mengarang dan
menggunakan banyak doa (mungkin terlalu banyak untuk selera kita zaman
sekarang!). Namun, menurut Ferdinand Medits, sahabat karibnya, ia selalu
menegaskan tiga hal: meditasi setiap hari, kasih persaudaraan sejati, dan
penghormatan terhadap Roh Kudus setiap hari.12
Meditasi setiap hari – waktu untuk berada hanya untuk Allah – tidak mudah,
karena, seperti kata Arnoldus, Roh Kudus adalah api yang menghanguskan
yang membakar segala kotoran sambil ia memanasi besi dingin menjadi panas
seperti api. Pada saat-saat seperti itu Roh Kudus mentransformasikan kita
menjadi seperti Kristus dan memenuhi kita dengan suatu gairah besar bagi
Allah dan semangat pelayanan bagi umatNya, di sinilah nampak buah sejati
doa. Roh Kudus membimbing kita untuk mengembangkan keterbukaan terhadap
pengalaman akan Allah dalam misi kita.
Bapa Pendiri kita digambarkan sebagai seseorang yang hidup di hadirat
Allah. Doanya selalu mengungkapkan suatu kesadaran akan kehadiran Allah
dan keinginannya untuk selalu tinggal terbuka terhadap Roh Kudus. Hidup di
hadirat Allah mengandaikan lebih dari pada menyadari Allah sesewaktu dalam
sehari. Hidup di hadirat Allah berarti kesadaran yang makin besar bahwa
setiap pribadi, seluruh ciptaan, setiap tindakan, terangkul dalam misteri
Allah. Ia adalah suatu rasa kagum terhadap kehadiran Allah yang kreatif
dan menghidupkan, dalam semua orang dan kebudayaan-kebudayaan dan
agama-agama. "Betapa penuh hormat kita akan menapaki tanah suci hadirat
Allah dalam diri orang-orang dan kebudayaan-kebudayaan mereka!" (SSpS
1996, 31) "Tak seorang pun pernah melihat Allah," tulis St. Yohanes, "tetapi
selama kita saling mencintai, Allah tinggal dalam diri kita dan kasihNya
menjadi sempurna dalam diri kita karena bahkan di dunia ini kita telah
menjadi seperti Allah... Barangsiapa mencintai Allah haruslah juga
mencintai saudara dan saudarinya" (I Yoh 4:12f). Maka kontemplasi misioner
menghantar kita kepada belaskasihan dan berkembang darinya.
b) Belaskasihan – mencintai seperti Kristus
Tugas kedua kita, menurut Peraturan tahun 1891, ialah "mencintai sesama
seperti Kristus" (I, 7). Inilah sesungguhnya tanda seorang murid (Yoh
13:34). “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku
mengutus kamu: terimalah Roh Kudus" (Yoh 20:21). Kasih Allah dicurahkan di
dalam hati kita oleh Roh (Rm. 5:5) membuat masing-masing kita menjadi
pribadi-pribadi yang lebih mencintai. Kita mulai melihat seperti Yesus dan
mencintai seperti Dia, bukan hanya dalam arti meneladani Kristus tetapi
juga menimba dari kekuatan kasih Kristus, Roh Kasih, yang tinggal dalam
hati kita. Karena kehadiran Roh Yesus inilah bisa membuat kasihNya menjadi
ukuran kasih kita. "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku
telah mengasihi kamu, dan seperti Aku telah mengasihi kamu, hendaknya kamu
juga saling mengasihi" (Yoh 15:9.12). P. Arnoldus secara eksplisit membuat
ini sebagai dasar kehidupan kita sebagai misionaris religius: "Sama
seperti Yesus Kristus, Gembala yang Baik, dan Allah Roh Kudus mencintai
kita dengan kasih ilahi tanpa jeda, maka demikian pula kita seharusnya
mencintai sesama, terlebih para Suster kita dan mereka yang keselamatannya
dipercayakan kepada kita" (SSpS 1891, I, 7). "Ungkapan terbesar kasih
kepada sesama," kata Bapa Pendiri kita, "ialah bekerja untuk menyelamatkan
jiwa-jiwa. Karena kegiatan mana sangat mulia dan sangat luhur dari pada
kegiatan yang membuat Sang Sabda menjadi manusia? Kegiatan mana sangat
merangkul semuanya dari pada yang merangkul semua karya belaskasihan?
Karena dengan mentobatkan orang-orang berdosa anda memberi makan kepada
yang lapar, anda memberikan tumpangan kepada para tunawisma, anda memberi
pakaian kepada mereka yang telanjang, anda menyembuhkan orang sakit, anda
membawa kebebasan kepada mereka yang dipenjarakan dan kehidupan kepada
orang-orang mati" (Peraturan tahun 1891, I, 7). Namun kasih menghantar
kita melakukan semua karya belaskasihan ini juga dalam arti fisik. "Karya
belas-kasihan rohani dan jasmani akan mendapat perhatian kita secara
khusus, karena setiap manusia adalah citra Allah, saudari dan saudara
Kristus, dan bait Roh Kudus. Sama seperti Allah memelihara mereka dari
kepenuhan kasihNya, sabar menanggung kekurangan mereka dan berusaha untuk
memperbaiki mereka, demikian pula kita akan mencintai mereka secara aktif.
Inilah pedoman emas kita, baik dalam memaklumkan iman dan dalam menggalang
saling mengasihi."13
"Semoga para Suster melihat Kristus yang miskin dalam orang-orang
miskin dan bersikap lembut dan berbelaskasihan terhadap mereka" (SSpS
1891, I, 12.7). John Peil mengingat bagaimana Bapa Pendiri memprak-tekkan
ini dalam perhatian praktisnya terhadap orang miskin dan berkekurangan
dari Steyl dan Tegelen, bagi mereka "seminari di Steyl selalu tinggal
terbuka. Pembagian makanan dan pakaian kepada orang miskin adalah tindakan
kasih yang sangat berkenan kepada Bapa Pendiri."14
Ia mendorong para misionaris untuk menunjukkan kasih "dengan mengangkat
mereka yang dibebani, paling kurang dengan kata yang membesarkan hati
mereka; dengan mendengarkan dengan sabar, dan dengan bertindak berani bila
ada penganiayaan atau perlakuan yang tidak adil" (1896, 269).
"Dikaruniai dengan kasih Bapa, yang dicurahkan ke dalam hati kita oleh
Roh Kudus, kita diutus untuk melanjutkan kasih itu seperti yang dilakukan
Yesus, ...menunjukkan kerahiman dan belaskasihan" (SSpS Con. 119). 'Melanjutkan
kasih Bapa seperti Yesus' mengungkapkan dengan tepat inti dari pemuridan,
dari misi. Panggilan menjadi seorang murid adalah suatu undangan untuk
melihat dunia seperti Yesus melihatnya dan hidup sesuai dengan visi itu.
Maka bagi Yesus belaskasihan adalah kebajikan fundamental: "Hendaklah kamu
berbelaskasihan sama seperti Bapamu berbelaskasihan" (Luk 6:36).
Pengalaman Yesus akan Allah sebagai Bapa yang berbelaskasihan mendorong
Dia untuk membuat belas-kasihan sebagai inti pesanNya, terungkap dengan
sangat mengharukan dalam tiga perumpamaan dalam injil Lukas 15 dan
menghayatinya dalam "kebaktian tak bersyarat kepada semua, khususnya
mereka yang berkekurangan." Belaskasihan ilahi yang sama mengulurkan
tangan kepada kita sekarang dan lewat kita kepada orang lain; uluran
tangan itu menyembuhkan, membebaskan, dan mempersatukan (Prolog SVD).
Dalam suatu khotbah pemberangkatan ke misi Arnoldus mendorong
keduabelas imam dan keempatbelas bruder: "Jangan ragu-ragu menolong orang
keluar dari penderitaan dan kekurangan mereka. Orang kepada siapa anda
pergi adalah orang asing bagi anda, tetapi dalam Kristus kita semua adalah
saudari dan saudara... Nilai mereka nampaknya sedikit saja menurut mata
biasa, tetapi karena darah Kristus nilai mereka telah menjadi luar biasa
besar" (1901, 581). Kita harus melihat orang dengan mata Kristus. Cinta
seperti itu penting sekali untuk para misionaris, katanya, karena cinta
itu menawan hati orang dan membuat kita terbuka terhadap bantuan Allah. "Banyak
orang ingin melakukan perbuatan-perbuatan hebat, tetapi tak seorang pun
ingin menjadi hamba bagi sesamanya." Lalu ia menceritakan perhatian St.
Fransiskus Xaverius terhadap kesejahteraan jasmani maupun rohani
orang-orang di Goa dan mendorong para misionaris kita untuk meneladani
Fransiskus dengan cara yang sama (1882, 476).
Maka bagi Arnoldus kontemplasi membawa kita kepada belaskasihan.
Sesungguhnya, batu ujian pengalaman religius mana pun adalah perobahan apa
yang didatangkannya dalam hidup pelayanan kasih kita. "Kasih suci tidak
terdiri atas perasaan suci tetapi atas motivasi-motivasi dan
perbuatan-perbuatan" (SSpS 1891, I, 13.7). "Hati Yesus haruslah hidup
dalam hati kita lewat kesalehan dan kasih, yaitu, kasih bagi sesama dan
dalam perbuatan baik bagi mereka. Maka orang yang berkekurangan haruslah
dibantu, yang tak berdaya didukung, yang tersesat dituntun kembali ke
jalan yang benar. Maka lewat perhatian terhadap kebutuhan jasmani
dipersiapkan jalan untuk kebutuhan rohani." Lalu Statuta 4 dari Peraturan
tahun 1891 mengutip St. Yohanes tanpa komentar sedikit pun: "Barangsiapa
tidak mengasihi saudara-saudarinya yang dilihatnya tidak mungkin mengasihi
Allah yang tidak dilihatnya" (I Yoh 4:20). Tujuan Peraturan hanyalah untuk
menjelaskan bagaimana kita dipanggil untuk mengungkapkan kasih ini secara
konkret.
c) Pertobatan – hidup seperti Kristus
Peraturan tahun 1891 menjelaskan tugas ketiga kita: "Allah berbicara
kepada kita sama seperti ia berbicara kepada Abraham, 'Hiduplah di
hadapanKu dengan tidak bercela' (Gen 17:1) ...Makin kita berkembang dalam
keadilan dan kesucian makin kita memuliakan Allah dan mengerjakan
keselamatan sesama" (I, 20). Inti pesan kerajaan Yesus adalah pertobatan
dan transformasi menjadi seperti Kristus. Hal ini menyangkut pergantian
kriteria yang menjadi pedoman keputusan-keputusan kita. Dalam Kitab Suci
pertobatan adalah sekaligus berpaling dari dan berpaling kepada, kepada
Allah, kepada Yesus. Sesungguhnya, berpaling kepada Yesus - inilah yang
membawa perobahan dalam hidup kita sehingga menghayati nilai-nilai injili.
Kita tidak hanya menerima mereka sebagai nilai-nilai teoretis melainkan
karena mereka adalah nilai-nilai Yesus. Yesus adalah pusat. Perjumpaan
kita dengan Dia dalam misi kita merupakan tantangan terus menerus untuk
bertobat dan membaharui diri.
Sama seperti kontemplasi berkembang dalam konteks misi kita, demikian
pula pertobatan dan transformasi kita dalam Kristus terjadi dalam misi.
Pertobatan menyangkut bertumbuh "dalam pemahaman kita tentang misi, dari
berbuat dan berbuat bagi menjadi berada dan berada dalam relasi dengan
orang lain" (SSpS 1996, 10). Sama seperti orang Kristen lain, kita juga
terpanggil untuk berusaha menjadi sempurna. Arnoldus menggunakan ungkapan
tradisional ini untuk mengacu kepada pertumbuhan dalam praktek kebajikan.
Mungkin ungkapan itu tidak terlalu tepat karena kesempurnaan dalam arti
ini adalah sesuatu yang mustahil; tidak pernah kita bisa katakan bahwa
kita sudah sempurna total. Memiliki ideal untuk dikejar bisa menstimulir,
tetapi mengukur terus menerus masih berapa jauh kita dari ideal itu bisa
juga mematahkan semangat. Berusaha untuk kesempurnaan di masa depan,
ber-fokus pada diri kita, tak sepenting dengan mendisern tindakan Allah
dalam hidup kita sekarang. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin lebih
membantu ialah: Sikap-sikap mana yang Tuhan tantang saya untuk kembangkan
dalam hidup saya sebagai misionaris? Perobahan macam apa yang diharapkan
dalam pribadiku? Bagaimana gambaran seorang SSpS/SVD yang memberi respons
kepada Roh Kudus?
Kapitel SVD tahun 2000 (# 52-71) mengidentifikasikan empat situasi
tapal batas di mana Kapitel merasakan suatu panggilan khusus untuk memberi
respons dan mengungkapkannya sebagai suatu panggilan untuk catur-dialog:
dengan orang-orang yang tak punya komunitas iman, orang-orang yang miskin
dan terpinggirkan, orang-orang dari kebudayaan lain, dan orang-orang dari
agama lain. Dalam setiap kasus dialog menyangkut pertobatan personal;
suatu kematian bersama Kristus dan bangkit bersamaNya ke dalam hidup lebih
limpah. Tuhan memanggil kita untuk pertobatan semacam apa?
- Dialog dengan para pencari iman menantang kita untuk beralih dari
iman yang dangkal kepada iman yang lebih dalam, suatu iman yang
sungguh-sungguh mempengaruhi segala aspek kehidupan kita.
- Dalam dialog dengan orang dari kebudayaan lain, kita beralih dari
prasangka, nasionalisme yang berlebihan, regionalisme, ketakutan, kepada
penerimaan, keterbukaan, antusiasme.
- Dalam dialog dengan orang dari agama lain, kita beralih dari tidak
percaya, kecurigaan dan kepongahan, kepada saling percaya,
keramah-tamahan, kerendahan hati, kolaborasi, hormat.
- Dalam beralih kepada orang-orang miskin dan terpinggirkan, kita
beralih dari ketamakan dan ketidakacuhan, kepada solidaritas dan
belaskasihan.
Beralih kepada orang miskin harus mendatangkan dua perobahan. Beralih
adalah "suatu pengalaman akan Allah sebagai sumber segala belaskasihan";
suatu pengalaman akan kemiskinan batin kita. Seorang Suster yang menolong
di suatu kamp pengungsi biasanya mengunjungi seorang ibu janda yang harus
memelihara tiga anak. Semangat perempuan ini yang penuh keberanian selalu
memberi inspirasi bagi Suster. "Saya sering bertanya," katanya, "siapa
menolong siapa?" Pertobatan sedang terjadi apabila kita merasa seperti itu.
Itu berarti melihat peranan kita lebih sebagai penerima dari pada pemberi.
Solidaritas mengungkapkan sikap yang kita butuhkan, karena tak bisa
mengikuti Yesus tanpa kasih afektif bagi orang miskin dan orang yang
terpinggirkan sebagai saudari dan saudara kita. Kapitel Jenderal SSpS
mengungkapkan hal ini secara konkret dengan menerima sebagai prioritas, "Solidaritas
dengan orang yang hidup dengan penyakit HIV/AIDS" (SSpS 2002, 69).
Suatu langkah ke depan yang signifikan yang dibuat oleh Kapitel adalah
panggilannya untuk pertobatan juga dalam level komunitas. Roh menolong
kita secara personal dan sebagai komunitas menjadi seperti Kristus, orang
yang bersikap dialog berdasarkan tiga kebajikan besar misioner yaitu "solidaritas,
hormat dan kasih" (# 53).
d) Terpanggil untuk Komunio – hidup dalam Kristus
Misi Allah adalah kasih ilahi yang mengulurkan tangan untuk menarik
seluruh umat manusia ke dalam persatuan dengan Allah. Kunci untuk memahami
kehidupan dan misi Yesus adalah persatuannya dengan Bapa, suatu komunio
hidup yang ingin dibagikanNya dengan datang kepada kita. Roh Kasih
dicurahkan ke dalam hati kita untuk mempersatukan kita dalam Yesus bersama
dengan Bapa. Hidup dalam Roh Yesus mengutus kita untuk melaksanakan ketiga
tugas kita dengan menjadi pelayan komunio ini. "Sama seperti Engkau, Bapa,
telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka
ke dalam dunia... Semoga mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau,
ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam
Kita... Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku, supaya mereka
sempurna menjadi satu, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus
Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku"
(Yoh 17:18f). Secara khusus "kita terpanggil untuk memberikan kesaksian
kepada kasih Allah yang merangkul semua secara universal... dan kepada
keanekaragaman manusia" (# 49-50). "Demikian kita menolong untuk membangun
suatu komunio kasih dengan semua orang, dan komunio semua orang dengan
Allah Tritunggal yang mengasihi kita" (SVD 1988, hal. 45).
Maka misteri Allah berdiam dalam hati kita adalah sekaligus sumber dan
tujuan misi. Untuk itulah Yesus datang. "Kasih dan kerendahan hati Yesus
dinyatakan khususnya dalam inkarnasiNya, dalam penderitaanNya yang suci,
dan dalam Ekaristi Kudus. Berkat rahmat Roh Kudus semoga Yesus, Kasih yang
menjelma, disalibkan dan tersembunyi, makin terukir lebih dalam di hati
kita dan meraja di hati kita sebagai saudara kita" (SSpS 1891, I, 5.3).
Doa, "Semoga Hati Yesus hidup dalam hati semua orang!" mengungkapkan
keinginan kita untuk bertumbuh dalam persahabatan dengan Yesus dan
ditransformasikan ke dalam citraNya sehingga cita-citaNya membentuk
sikap-sikap kita. Tetapi lebih banyak lagi implikasinya. Doa ini memohon
supaya Roh Kudus memberikan kita rahmat persatuan dengan Allah yang adalah
kerinduan terdalam hati manusia. Itulah proses di mana masing-masing kita
memenuhi diri kita dengan menghayati panggilan pribadi kita dan dengan
demikian mengembangkan yang terbaik dari kita yang unik. Inilah kehendak
Allah, impian Allah bagi kita masing-masing. Buah menjadi nampak apabila
Roh Kudus menghantar kita menghargai setiap orang sebagai yang pantas
dicintai karena telah dikaruniai kepantasan itu oleh kasih Bapa dalam
Yesus, dan apabila saya menolong orang lain menghargai keindahan mereka
sendiri juga. Bagi Arnoldus manusia adalah seperti kaca kristal yang
keindahannya memancar ketika sinar matahari Allah bersinar melalui mereka.
Itulah kehidupan Allah dalam diri kita; semoga Allah hidup dalam diri kita!
B. Tak Terungkapkan Dengan Kata-Kata, Namun Nyata
Misteri Allah berdiam dalam hati manusia dialami terutama apabila kita
mengulurkan tangan dalam kasih kepada orang lain. Dalam Yoh 14:15-26 Yesus
tiga kali menjanjikan Allah Tritunggal berdiam dalam hati apabila kita
mengikuti perintahNya. Bagi Yesus misteri Allah berdiam dalam hati
bukanlah soal perasaan hangat karena dekat dengan Allah dalam doa. Misteri
ini adalah suatu undangan "untuk mencintai seperti Aku" (13:34). Para
murid baru saja melihat kasih itu dalam aksi; Roh Kudus dalam diri kita
mengundang kita juga untuk menjadi pelayan handuk-dan-air. "Selama kita
saling mencintai, Allah tinggal di antara kita" (I Yoh 4:12).
Kesadaran akan kehadiran Allah ini adalah suatu pengenalan melebihi
segala ide, bahkan tak terungkapkan dengan kata-kata. Namun ia menampakkan
diri dalam urusan kita yang biasa dan harian. Ini berarti memberi
perhatian kepada Allah dalam segala realitas, dalam diri kita, dalam misi
kita, dalam alam; menjadi sadar akan Allah yang aktif dalam sejarah. Jika
doa adalah hidup dan memikirkan kehadiran Allah, maka hal itu harus
membawa kita hidup dalam saat sekarang. Ia berarti memahami bahwa misi
adalah menggalang relasi dan "bukan hanya sebagai suatu kegiatan, apa yang
kita buat, tetapi sebagai keberadaan kita; ia adalah identitas kita" (SSpS
1996, 25).
Allah berdiam dalam diri kita bukan soal Allah menjadi hadir dalam diri
kita tetapi sebaliknya kita menjadi hadir dalam Allah dalam setiap situasi,
yang lebih dipahami oleh hati yang mengasihi dari pada oleh budi.
P. Arnoldus tidak pernah menjelaskan sepenuhnya apa yang dipahaminya
sebagai misteri Allah berdiam dalam hati manusia, sama seperti Yesus dan
St. Paulus juga tidak. Diisyaratkan oleh gambaran puitis, ia bisa dipahami
hanya dengan menghayati misteri itu; dengan membiarkan misteri itu
mencengkam kita. Tak bisa diungkapkan oleh kata-kata dari Arnoldus; namun
Roh Kebenaran memberi dia pengetahuan riil - riil, karena pengetahuan itu
membentuk visinya tentang Allah, tentang orang lain, tentang dirinya;
pengetahuan itu membentuk dasar dari komitmen misionernya seumur hidup.
Roh Kudus ingin membentuk visi kita juga, supaya bisa melihat Allah
sebagai dekat sekali dengan kita, punya perhatian terhadap kita, tergerak
oleh kerinduan yang membara akan kasih kita. Arnoldus menjelaskan seruan
Yesus, "Aku haus" (Yoh 19:28), sebagai ungkapan kerinduan Allah terhadap
kita (1895, 281, 569). Ia mengusulkan supaya kehausan fisik yang diderita
oleh para misionaris ditanggung dalam persatuan dengan kehausan ilahi
untuk jiwa-jiwa.
Roh Kudus yang tinggal dalam hati manusia membantu saya melihat diriku
sebagaimana Allah melihat aku – seorang pendosa, seekor cacing tanah yang
hina, tetapi juga seorang yang disentuh oleh keindahan Roh, dicintai oleh
Bapa dan oleh karenanya pantas dicintai; pantas dicintai bukan karena
prestasiku, melainkan hanya karena aku adalah diriku, aku adalah milik
Allah.
Roh Kudus memperluas pemahaman kita akan misi dan membentuk pandangan
kita terhadap orang lain. Jika Roh Kudus sudah hadir dalam diri
orang-orang dari pelbagai bangsa dan kebudayaan, maka kerendahan hati dan
hormat adalah sikap-sikap yang pantas bagi seorang misionaris. "Betapa
penuh hormat kita akan menapaki tanah suci hadirat Allah dalam diri
orang-orang dan kebudayaan-kebudayaan mereka!" (SSpS 1996, 31).
C. Tantangan Bunga-bunga
Misi adalah selalu misi Allah. Mendoakan doa P. Arnoldus, "Semoga Allah
Tritunggal hidup dalam hati kita!", adalah mendoakan supaya misi Allah
mencapai tujuannya. Doa ini tidak minta kepada Allah untuk melakukan
sesuatu, bahkan tidak juga minta untuk merobah kita dengan cara apa pun,
hanya supaya Allah hidup dalam diri kita, karena jika Allah tinggal dalam
diri kita, kita juga akan hidup sepenuhnya. Doa ini memohon supaya
keindahan dan kasih Allah hidup dalam diri semua orang.
Apabila Allah mencintai, Ia tidak pernah mencintai dari kejauhan; bagi
Allah mencintai berarti bersatu dengan kekasih. Demikianlah Arnoldus
memahami pernyataan Paulus tentang kasih Allah yang dicurahkan ke dalam
hati kita oleh Roh (Rom 5:5). "Itu bukan hanya sentuhan yang berlalu,
melainkan Ia tinggal dalam diri kita secara hidup." Kesadaran ini memenuhi
hatinya dengan kasih dan hormat bagi orang lain yang, seperti dia,
memiliki Allah sebagai Bapa, Yesus sebagai saudara, Roh Kudus sebagai
pengantin, dan yang adalah "ahli waris harta kekayaan Allah." Oleh karena
itu, "kita harus mengasihi mereka sama seperti Allah mengasihi mereka"
(1897, 684; 746). Berkomentar tentang ayat, "Sang Sabda menjadi manusia" (Yoh
1:14), Arnoldus menyatakan bahwa kasih Allah di sini "bukan hanya kasih
yang berbelaskasihan atau kasih pribadi yang baik hati, tetapi suatu kasih
yang memberikan diri" (1880, 429). Itulah sebabnya ia menyukai gambaran
Roh Kudus sebagai api yang membuat besi panas; kasih Allah berarti
memberikan diri. Kerinduan kasih Allah ialah untuk mempersatukan semua
dengan Allah dalam Kristus yang telah bangkit. Yesus mati sebagai seorang
individu terpisah, sepi; tetapi ia bangkit sebagai kepala yang
mempersatukan semua manusia, bahkan seluruh ciptaan (Ef 1:10).
Maka, menegaskan bahwa Allah berdiam dalam hati tidak hanya mengikuti
suatu devosi saleh dari Bapa Pendiri. Lebih dari itu, ia adalah suatu cara
baru berada (being) dan melihat (seeing), suatu rasa diriku yang
ditingkatkan sehingga saya melihat diriku sebagai bagian kecil tetapi unik
dan berharga dari suatu keseluruhan yang lebih besar, suatu dunia yang
dasar serta tujuannya berada dalam Allah, Allah yang adalah lebih dekat
kita dari pada nafas kita.
Marilah kita menghirup keindahan Nafas Allah di sekeliling kita, karena,
seperti kata Arnoldus, "Allah mengasihi kita dalam Roh Kudus dan Ia
memberikan kita segala rahmat dalam Roh Kudus. Roh Kudus adalah pemenuhan
dari kepenuhan Tritunggal Mahakudus dan juga kepenuhan dunia. Dari Roh
Kudus datanglah hidup bagi semua makhluk hidup; dari Dialah lagu merdu
burung-burung; dari Dialah keindahan hutan-hutan, kebun dan padang rumput.
Dalam Roh Kudus Allah mengasihi Dunia dan membagikan dengan dunia
rahmat-rahmat berharga, bahkan semua rahmat. Oleh karena itu saya
seharusnya balas mengasihi Dia. Kasihnya murni dan tak ingat diri sama
sekali. Ia tidak mengasihi kita karena apa adanya kita, tetapi karena apa
yang Ia ingin bagikan dengan kita. Dari Roh Kudus datanglah segala
persahabatan dan keindahan" (1889, 323). Roh Kudus mengasihi kita bukan
hanya untuk apa yang kita telah buat, tetapi untuk apa yang kita bisa
terima.
Seperti Arnoldus kita menghormati bunga-bunga sebagai "utusan-utusan
Allah." Apa pesan mereka bagi kita? Sayangnya, mereka berbicara kepada
kita sekarang tentang banyak bunga yang mati karena hujan asam (acid rain)
dan zat-zat polusi dari manusia yang lain. Mereka berbicara kepada kita
tentang banyak anak mati karena kelaparan yang disebabkan oleh kerakusan
dan ketidakpedulian manusia. Sensitivitas terhadap bunga-bunga sangat
menantang para Suster, umpamanya, menghayati doa Bapa Pendiri dengan
menggalang "suatu pandangan hidup yang holistik dan sikap penuh hormat
terhadap alam semesta yang mengalir dari spiritualitas feminin kita dan
yang mengambil bentuk konkret dalam gaya hidup sederhana dan cara yang
menghidupkan dalam menangani sumber daya" (SSpS 1996, 32).
Bunga-bunga, kata Yesus (Luk 12:27-31), menantang kita untuk
mengarahkan hati kita pada satu-satunya hal yang penting, kerajaan Allah,
dan bukan pada hal-hal lain. Inilah inti kaul-kaul religius kita. Maka, di
atas segalanya, bunga-bunga berbicara kepada kita tentang keindahan Allah
dan kehadiranNya yang setia menemani kita dalam dunia kita yang menderita,
suatu kesadaran yang menghantar Arnoldus, dalam konperensi yang sama di
mana ia berbicara tentang bunga-bunga sebagai 'utusan-utusan Allah,' untuk
menegaskan peng-hormatan terhadap orang sebagai ciptaan Roh Kudus dalam
citra Allah dan dijadikan lebih lagi seperti Allah melalui kelahiran baru
dalam Kristus oleh Roh Kudus. Maka doa ini membawa kita menghargai
keindahan setiap pribadi, melihat dunia dan semua orang seperti Yesus. Doa
itu membawa kita menjadi terjaga pada Roh Kudus yang berhembus di dunia
kita, menolong kita membuatnya "suatu tempat kediaman yang lebih layak
bagi Allah" (A.J.), bergembiara atas tanda mana saja dari kerajaan Allah
yang menembus dan melayani kerajaan kasih.
Menghormati bunga-bunga dan mencintai orang membuat kita membuka mata
terhadap Allah yang ada di pusat keberadaan kita, Allah Tritunggal yang
adalah sumber segala keindahan dan kehidupan, Allah yang adalah kasih.
Maka doa Arnoldus menggemakan doa misioner Yesus kepada Bapa: "Semoga
mereka menjadi satu, Bapa, sama seperti Engkau di dalam Aku dan Aku di
dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya... Aku
di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku, semoga mereka sempurna menjadi
satu... Supaya kasih yang Engkau berikan kepadaKu ada di dalam mereka, dan
Aku di dalam mereka" (Yoh 17:21f). Itulah yang dimaksudkan melihat Allah
dalam segala sesuatu, dan segala sesuatu dalam Allah. Semoga Allah
Tritunggal hidup dalam diri kita dan di dunia kita! Vivat!
* Penulis: Lahir 1940 di Liverpool, England. Sesudah tahbisan imamat di
Techny, USA, pada tahun 1966 ia bekerja selama beberapa tahun sebagai
formator di novisiat SVD dan seminari tinggi di Philippines, lalu di
Inggeris. Ia dipanggil untuk bekerja di Jenderalat SVD sebagai Sekretaris
formasi dan pendidikan, pertama dalam masa jabatan P. H. Heekeren lalu
dalam masa jabatan P. H. Barlage. Sesudah tiga masa jabatan di Roma, ia
ditugaskan sebagai anggota team Pusat Spiritualitas Arnoldus Janssen,
berbasis di Steyl, Netherlands.
1 A. Rohner, Die
Vortragstiitigkeit P. Arnold Janssens (Analecta SVD 30 & 31), Rome, 1974,
1976. Referensi memberikan tahun konperensi tambah nomor halaman, e.g.
(1901, 634). Dokumen-dokumen kapitel jenderal diacu dengan tahun kapitel
tambah nomor halaman atau paragraf.
2 H. Fischer, You are the
Temple of the Holy Spirit (trans. P. La Forge), Quezon City, 1999,
127-128.
3 Pada awalnya doa
berfokus pada individu dan komunitas-komunitas kita, tetapi kemudian
Arnoldus memperluasnya untuk merangkul semua orang. Umpamanya, ia
mengatakan kepada kita bahwa arti yang lebih luas adalah tema dan intensi
Pentakhtaan Sakramen Mahakudus selama Empat Puluh Jam pada tahun 1900.
Maka doa itu seperti di dalam Prolog SSpS dan Epilog mengungkapkan
semangat Bapa Pendiri: "Semoga Allah Tritunggal hidup dalam hati kita dan
dalam hati semua orang." Demikian pun SSpS-AP Konst. 411 dikatakan "...
dan dalam setiap hati."
4 A. Rohner, Arnold
Janssen: Personliche Aufzeichungen aus dem Jahre 1906 (Analecta SVD 55),
Rome, 1981, 26. Dicatat sebagai AN 55.
5 A. Rohner, Die Gebete
Arnold Janssens (Analecta SVD 56), Rome, 1982, 100. Dicatat sebaga AN 56.
6 J. Reuter, Proclaiming
the Word in the Power of the Spirit, Steyl, 1994, 71-72.
7 Ulasan panjang tema ini
lihat P. McHugh, "The Role of Missiological Education in Our Society's
Formation Program," DIWA VIII (1984) 101-117. Untuk formasi para Bruder
lihat P. McHugh, "The Development of the SVD Brother Formation," Verbum
SVD 35 (1994) 241-258.
8 Rohner, AN 55:87.
9 K. Muller,
Contemplation and Mission: Sister-Servants of the Holy Spirit 1896-1996 (Studia
Instituti Missiologici SVD 69), Nettetal: Steyler Verlag, 1998, 117-118.
10 A. Hilger, "A Private
Secretary's Impressions of Our Founder," in: P. McHugh (ed.), Arnold
Janssen Yesterday and Today (Analecta SVD 63/III), Rome, 1998, 51ft'.
11 A. Hilger, "The 100th
Birthday of Arnold Janssen," in: Analecta SVD 63/III,73-74.
12 F. Bornemann (ed.),
Remembering Arnold Janssen (Analecta SVD 42), Rome, 1978, # 1133.
13 See A. Janssen, "The
Spirit and Task of Our Society," in: Analecta SVD 63/III, 304.
14 J. Peil, "Wheat and
Chaff from the Early Days of the Steyl Mission House," dalam: Analecta SVD
63/III, 157.
|